Tidak hanya gedungnya yang dirombak menjadi supermegah, bagian dalam Museum Mandala Mathika Subak juga disulap menjadi modern. Sejumlah piranti elektronik terpasang rapi. Di antaranya videotron jumbo yang menjadi media edukasi penayangan sejarah sistem pertanian. Yang menarik, listrik yang digunakan di Museum Subak adalah listrik energi hijau. Seperti apa?
UDARA sejuk menyapa wartawan Radarbali.id setelah seorang satpam membukakan portal. Barisan pepohonan besar, kolam, air mengalir, dan hamparan sawah memanjakan mata selama berjalan menuju museum. Berdiri di atas lahan seluas 6,28 hektare, Museum Subak di Banjar Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kediri, Tabanan, kental dengan arsitektur Bali. Hampir semua dindingnya berbalut bata merah dengan ornamen ukiran khas Bali di beberapa sudut. Museum Subak adalah satu-satunya museum di tanah air yang menjadi pusat edukasi dan pelestarian budaya pertanian.
Museum yang diresmikan 13 Oktober 1981, itu direvitalisasi Kementerian PUPR untuk mendukung gelaran KTT World Water Forum (WWF) Mei 2024. Delegasi dari berbagai benua datang melihat aneka koleksi benda bersejarah di Museum Subak. Tidak hanya menyediakan koleksi di dalam ruangan, Museum Subak juga memiliki koleksi di luar ruangan, seperti rumah tradisional Bali hingga bentang sawah terasering.
Sementara di dalam ruangan tersaji banyak konten menarik. Di antaranya paviliun Tiongkok yang menyuguhkan informasi pengelolaan air di Tiongkok dari masa ke masa. Selain Tiongkok, ada juga paviliun Korea Selatan. Selain luar negeri, juga banyak koleksi yang menceritakan pengelolaan air dari berbagai daerah di Indonesia sejak ribuan tahun lalu. Khusus di Bali, sistem irigasi dikenal dengan istilah subak. Pada 2012 subak diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
Nah, untuk menerangi museum dan mengoperasikan semua piranti, dibutuhkan listrik berdaya besar agar tidak byar pet. Kepala UPTD Museum Subak Si Putu Eka Putra Santi mengaku senang dengan penggunaan listrik energi bersih. Energi ramah lingkungan itu dari layanan Renewable Energy Certificate (REC) sebanyak 200 unit atau setara 200 Megawatt Hour (MWh). REC didapat dari kolaborasi dengan PT PLN (Persero) pada 25 Juni 2024. Dengan layanan REC itu, Museum Subak menjadi museum pertama di tanah air yang menggunakan energi hijau untuk operasionalnya.
Pemakaian listrik energi bersih ini juga selaras dengan filosofi subak yaitu Tri Hita Karana. Tri Hita Karana adalah upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam. Konsep inilah yang membedakan Museum Subak dengan museum lainnya. Selain sebagai wahana edukasi, museum juga sebagai sarana rekreasi. Banyak siswa dari Bali maupun luar Bali yang datang belajar. Maklum, Museum Subak adalah satu-satunya museum di Indonesia yang secara spesifik menyajikan tentang sejarah pertanian.
”Karena itu, kami sangat mengapresiasi listrik energi bersih ini. Ini merupakan usaha menjaga kelestarian lingkungan,” terang Eka diwawancarai di ruang kerjanya, Senin (14/10/2024).
Tak hanya itu, pemakaian REC ini juga menjadi nilai plus bagi Museum Subak. Sebab, Museum Subak berhak mendapat sertifikat REC yang merupakan produk kerja sama PLN dan Clean Energy Investment Accelerator (CEIA). Sertifikat REC ini berlaku global yang diakui dunia. Dengan sertfikat itu, Museum Subak mendapat legitimasi tentang pemakaian energi bersih secara nyata. ”Apalagi pengunjung yang datang tidak hanya wisatawan domestik, tapi banyak dari mancanegara terutama Eropa. Mereka ingin tahu sejarah pertanian dari masa ke masa,” tukasnya.
Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sektor Penunjang dan Distribusi Air (PSDA) Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida, Bima Anjasmoro juga menyambut hangat penggunaan listrik energi baru terbarukan di Museum Subak. ”Kami sangat mengapresiasi listrik energi bersih berbasis REC. Manfaatnya bisa langsung dirasakan. Ini adalah kolaborasi untuk mengurangi emisi karbon,” bebernya.
Diwawancarai terpisah, Manajer Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3)PLN Bali Selatan, I Putu Kariana didampingi Asisten Manajer Pemasaran Ketut Dody Darmawan mengungkapkan, REC adalah produk penggunaan listrik yang bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) yang transparan dan akuntabel. Setiap sertifikat REC membuktikan bahwa listrik yang digunakan pelanggan berasal dari pembangkit EBT.
Dijelaskan, satu unit REC setara dengan 1 Megawatt Hour (MWh). Museum Subak saat ini bisa mendeklarasikan diri menggunakan energi terbarukan, karena 50 persen kebutuhan listrik dari REC. ”Dengan REC, dunia jadi tahu bahwa listrik yang digunakan di Museum Subak adalah energi bersih, bukan fosil,” jelas Kariana.
Menurutnya penggunaan REC sangat praktis dan tidak sulit. Pelanggan cukup datang ke kantor PLN, lalu pelanggan sendiri yang akan menentukan kebutuhan listrik berbasis REC. Dalam hitungan hari, listrik bersih langsung disalurkan ke tempat pelanggan tanpa perlu memasang alat apapun.
Kariana menambahkan, kesadaran masyarakat terhadap energi bersih di Bali terus meningkat. Ini dibuktikan dengan permintaan terhadap energi terbarukan semakin tinggi. REC merupakan kolaborasi penting untuk mencapai Net Zero Emissions (NZE) yang ditargetkan terwujud 2060. ”Sampai pertengahan Oktober 2024, kami di Bali sudah menjual 6.600 unit REC,” bebernya.
Sementara Dody mengungkapkan, REC yang digunakan Museum Subak diambilkan langsung dari pembangkit EBT di Kamojang, Jawa Barat. Museum Subak membeli 200 unit REC untuk masa penggunaan selama setahun. ”200 unit REC itu sama dengan 200 ribu KWh. Kalau dihitung kasar, bisa memenuhi kebutuhan listrik 5.000 lebih rumah. Museum Subak adalah pelanggan potensial kami,” kata Dody.
Pria asal Buleleng ini menegaskan, pilihan Museum Subak menggunakan REC sangat tepat. Penggunaan energi bersih di Museum Subak akan menjadi inspirasi bagi komunitas lain. ”Kami senang bisa berkolaborasi dalam penyaluran energi bersih. Apalagi ini adalah museum, pusat edukasi budaya. Semua muaranya adalah penyelamatan lingkungan dan keberlanjutan masa depan umat manusia,” tandasnya.
Editor : Maulana Sandijaya