Sepintas saja dilihat, tampak unik, memang. Inilah payung cukup yang sudah tidak banyak digunakan oleh petani Tabanan di tengah era digital yang serba barang pabrikan seperti sekarang ini. Sudah sangat jarang melihat petani di lereng Gunung Batukaru memakainya di musim penghujan.
DARI kejauhan tampak aneh. Payung cukup salah satu jenis payung yang khas bagi masyarakat petani di Tabanan yang hidup di lereng Gunung Batukaru.
Payung cukup atau biasanya disebut dengan Ikud sangat kental dengan kehidupan para petani di lumbung beras. Karena mereka dulunya ketika melakukan aktivitas pertanian saat musim hujan tiba biasanya menggunakan payung cukup sebagai alat pelindung diri ketika menanam padi.
Salah seorang pemuda desa Wangaya, Penebel Tabanan Made Danu Tirta mengaku sudah jarang ia temukan payung cukup di desanya sekarang ini. Termasuk pula pembuatan dari payung cukup ini sudah langka ditemukan.
Khusus di desanya memang sebagian besar dari petani bisa membuat. Kendati ada membuat, akan tetapi tidak mau mengembangkan. Paling payung cukup ini dibuat untuk diri sendiri. Itupun akan dibuat kembali payung cukup oleh petani kalau payung cukup dalam kondisi rusak atau hancur.
"Maka payung cukup bisa dibilang langka, karena sudah tidak digunakan dan jarang buat," ungkap pria yang bekerja sebagai Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama, Selasa (3/12/2024).
Ia menjelaskan payung cukup ini sejatinya sangat kental dengan kehidupan aktivitas para petani di lereng gunung Batukaru. Dulunya payung cukup ini lebih banyak difungsikan sebagai pelindung diri ketika hujan.
Sebab bentuk payung yang sekilas seperti kepala ular cobra dapat melindungi kepala, punggung, hingga bagian bawah dari hujan.
Meskipun tidak memiliki fungsi maksimal sebagaimana jas hujan saat ini, namun payung cukup ini dapat membantu melindungi petani dari hujan ketika melaksanakan beberapa aktivitas di sawah maupun ladang. Sehingga aktivitas bertani tetap berjalan dengan baik.
"Petani akan menggunakan payung cukup ini saat nandur (tanam) bibit padi ataupun ketika membajak sawah saat musim hujan," jelasnya.
Sementara dari sisi bahan dasar pembuatan payung cukup terdiri dari bambu dan tali. Bambu menjadi bahan utama pembuatan payung ini. Jenis bambu yang dipergunakan adalah bambu tali (tiying tali).
Bahan bambu tali dipandang memiliki kekuatan yang baik seperti tidak mudah patah , cukup lentur dan mudah didapatkan di lingkungan sekitar.
Untuk pembuatan payung cukup, maka bambu yang dipilih adalah bambu tali berusia agak muda, tidak pecah, serta memiliki ukuran ruas cukup panjang.
Kemudian tali sebagai bahan pembuatan payung ini menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Masyarakat zaman dahulu, mempergunakan tali duk (tali dari ijuk) dan bun atau kedis sejenis tumbuhan merambat yang hidup di semak-semak).
"Nah untuk cara pembuatan payung cukup tergolong rumit dan memerlukan waktu lama. Pengerjaannya perlu ketelitian agar menghasilkan payung cukup dengan fungsi maksimal," jelasnya.
Kini keberadaan dari payung cukup ini mulai langka. Meski dulunya keberadaan payung cukup tersebar dibeberapa wilayah Tabanan Bali. Penyebarannya tentu dipengarui oleh aspek geografis, ekologis, dan budaya masyarakat. Khusus pada daerah dataran tinggi dengan curah hujan tinggi.
Seperti wilayah yang berada diseputaran lereng Gunung Batukaru diantaranya Kecamatan Penebel dan desa-desa tua di wilayah utara Kecamatan Selemadeg.
"Bahkan dulunya penggunaan payung cukup setahu saya juga digunakan oleh petani di daerah wilayah Bangli," tandasnya. [juliadi/radar bali]
Editor : Hari Puspita