Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kegigihan Petani di Subak Jaka Kembangkan Pertanian Organik Berkelanjutan: Semua Serba Organik, Hasil Panen Sampai Mancanegara

Maulana Sandijaya • Jumat, 21 Februari 2025 | 13:15 WIB
ALAMI: Pekaseh Subak Jaka I Wayan Yusa menyemprotkan cairan organik di sawahnya Kamis (13/2/2025).
ALAMI: Pekaseh Subak Jaka I Wayan Yusa menyemprotkan cairan organik di sawahnya Kamis (13/2/2025).

Melalui pertanian organik, ratusan petani yang tergabung di Subak Jaka, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, berkomitmen menjaga kelestarian alam. Mereka meyakini, sesuatu yang dikelola secara alami akan membuat manusia sehat jasmani dan rohani. Mereka antusias ketika pemerintah, Lesos, Pupuk Indonesia (PI), dan lembaga lain mengajak bersinergi.

SUBAK Jaka berada di ketinggian 150-200 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan bentuk lahan terasering. Subak Jaka memiliki luas lahan 48 hektare dengan jumlah petani 276 orang. Saat wartawan koran ini datang, Pekaseh/Kelian Subak Jaka, I Wayan Yusa baru saja selesai menyemprotkan cairan organik di sawahnya. Cairan organik itu dibuat dari fermentasi kentang. Tujuannya untuk menjaga padi tetap sehat saat cuaca ekstrem seperti saat ini.

Meski usianya sudah 63 tahun, Yusa tetap energik. Langkahnya cekatan saat naik turun di lahan sawah yang tidak datar. Ia kemudian mengajak wartawan koran ini istirahat di gubuknya.  

”Pertanian organik di Subak Jaka mulai dirintis 2016 dengan luas 10 hektare. Dulu namanya pertanian ramah lingkungan. Ketika saya dipilih menjadi pekaseh (kepala subak), krama (warga) memutuskan pertanian organik menjadi program berkelanjutan,” ungkapnya, Kamis (13/2/2025).

Yasa menegaskan, pertanian organik di Subak Jaka benar-benar dikerjakan secara alami. Misalnya membersihkan gulma dilakukan dengan cara manual dicabut. Karena dikerjakan secara alami, maka kualitas tanah dan air tetap terjaga.

Meski demikian, Yasa mengaku banyak tantangan yang dihadapi petani selama hampir satu dekade mengelola pertanian organik. Mulai mencari varietas padi yang cocok, serangan hama, hingga kesulitan memasarkan hasil panen. Varietas padi yang sudah dicoba adalah inpari 48, inpari 32, baroma, hingga mentik susu. Menurutnya tidak semua jenis padi cocok ditanam di Subak Jaka. Tingkat kedalaman tanah sangat berpengaruh. Di tengah kesulitan itu, datang tantangan dari pihak lain yang mencoba menggoda para petani agar pindah haluan menjadi petani nonorganik. Para petani diiming-imingi beragam kemudahan. 

Namun, berkat komitmen para petani, pertanian organik di Subak Jaka bertahan sampai sekarang. Bahkan, luas lahan dan jumlah petani yang bergabung terus bertambah. Semangat para petani kian bertambah saat Presiden Jokowi berkunjung ke Subak Jaka pada 2018. Setahun berikutnya, Subak Jaka mendapat sertifikat LeSOS (Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman). Tidak mudah untuk mendapatkan sertifikat tersebut. Salah satu syaratnya adalah pertanian organik wajib diterapkan setidaknya tiga tahun berturut-turut.

Astungkara (syukur, Red), 2018 luas sawah yang menjalankan pertanian organik tambah 12 hektare. Tahun 2024 tambah lagi 5 hektare, sehingga total luas pertanian organik di Subak Jaka saat ini 27 hektare,” ungkap ayah tiga anak itu. 

Yasa mengungkapkan, dukungan dari berbagai pihak membantu eksistensi pertanian organik di Subak Jaka. Salah satu pihak yang diajak berkolaborasi adalah Pupuk Indonesia (PI).  Kolaborasi itu berbentuk penggunaan Pupuk Majemuk Phonska Alam (NPK) yang diproduksi Petrokimia Gresik. ”Kami di sini menyebutnya pupuk majemuk,” ucapnya sambil menunjuk karung Pupuk Majemuk Phonska Alam warna biru di sampingnya.

Dijelaskan Yasa, kerja sama itu dimulai 2024. Saat itu ada perwakilan PI yang datang membawakan pupuk majemuk. Pupuk majemuk dibuat dari bahan-bahan mineral alam, sehingga dapat digunakan dalam sistem pertanian organik. Selain itu diperkaya dengan nitrogen yang bisa menggemukkan padi, sehingga bisa mendorong produktivitas petani. Karena bersifat alamai, penggunaan pupuk organik ini ikut menjaga nutrisi tanah.

”Pupuk majemuk memiliki kandungan hara N, P, dan K yang mudah larut. Pupuk majemuk ini kan asli buatan Indonesia yang bersertifikat organik, karena sama-sama organik, kenapa kita tidak mencobanya,” tukas sarjana pertanian lulusan Universitas Tabanan itu.

Dalam mengaplikasikan pupuk majemuk, Yasa menyatakan sesuai prosedur yang ditetapkan. Hal itu untuk mendapatkan hasil maksimal. Ketika mulai mengolah tanah, setiap 1 are (10x10 meter) sawah diberi campuran 1 kg pupuk majemuk. Setelah padi berumur 10 hari, ia kembali memberikan pupuk majemuk 1 kg/are. Yasa pun mengapresiasi PI yang merekomendasikan pupuk majemuk. ”Sawah kami yang memakai pupuk majemuk sekitar 4 hektare. Bisa dilihat, padi tumbuh hijau dan subur. Harapannya terus berhasil dan semua petani bisa menggunakan pupuk majemuk,” tukasnya.

Dalam setahun petani di Subak Jaka dua kali panen. Jika cuaca tidak ekstrem, bisa sampai tiga kali masa tanam. Soal hasil panen, Yasa bersyukur. Setiap 1 hektare bisa menghasilkan 5-6 ton gabah. Yang membuat petani di Subak Jaka bersemangat, hasil panen pertanian organik sudah ada peminat khusus dengan harga lebih tinggi dibandingkan hasil pertanian konvensional.

Yang menarik, gabah hasil pertanian organik Subak Jaka tidak hanya dijual di dalam negeri, tapi juga sampai mancanegara seperti India, bahkan hingga Jerman. Teranyar, adalah warga Australia yang membeli dengan harga lumayan tinggi, yaitu Rp 8.500/kg. Menurutnya, kunci pemasaran adalah aktif membuka jejaring. ”Tamu dari Australia membeli 10 ton gabah. Mereka suka hasil pertanian organik karena aroma dan rasanya berbeda,” ungkap Yusa.

Yusa berharap kerja sama dengan semua pihak terus berlanjut. ”Kami juga berharap pemerintah terus memberikan pendampingan, sehingga pertanian organik ini bisa berkelanjutan dan ajeg (lestari, Red),” tuturnya.

Sementara itu, Perbekel/Kepala Desa Marga I Made Sugianto yang diwawancarai terpisah mengatakan, untuk mempertahankan pertanian organik butuh perjuangan esktra. Awal pertanian organik, BUMDes ikut membeli gabah petani karena belum ada pasar khusus. Perlahan, petani mulai mandiri setelah menemukan pasar. Di tengah jalan, konsistensi petani diuji saat pandemi Covid-19. Meski sempat kesulitan, para petani di Subak Jaka berusaha bertahan. ”Sebagai kepala desa, saya bangga dengan perjuangan para petani. Kami bangga karena punya pertanian organik yang banyak ditiru daerah lain,” kata Sugianto.

Pria 45 tahun itu optimistis pertanian organik mampu membantu mewujudukan swasembada pangan di Indonesia. Sebab, para petani di Subak Jaka sudah membuktikannya, mulai menggarap lahan hingga memasarkan hasil panen. Ia mengapreasiasi banyak pihak yang membantu Subak Jaka, salah satunya PI. Namun demikian, Sugianto meminta para pihak dan pemerintah tidak lepas tangan. Sugianto berharap pertanian organik di Subak Jaka terus berkembang dan menginspirasi desa lain.  

”Dalam ajaran leluhur, petani wajib membanggakan raja. Kalau sekarang, petani harus membantu pemerintah. Sebaliknya, pemerintah harus memerhatikan nasib petani, karena petani adalah penghasil pangan,” tandas Perbekel yang juga sastrawan itu. (***)

Editor : Maulana Sandijaya
#Subak Jaka #pertanian organik #tabanan #bali #subak