Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dede Satria Guru Musik Tunanetra Semangat Ajarkan Alat Musik, Sukses Bina Ratusan Murid

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 4 Maret 2025 | 12:11 WIB
PENGAJAR MUSIK: Dede Satria  and Band saat tampil di sebuah acara di Trans Studio Mall
PENGAJAR MUSIK: Dede Satria and Band saat tampil di sebuah acara di Trans Studio Mall

Seorang guru difabel tunanetra Dede Satria semangat mengajarkan musik kepada anak-anak yang yang bukan penyandang disabilitas. Belasan tahun guru itu mengajarkan berbagai alat musik. Bagaimana kisahnya?

KETERBATASAN tidak menghalangi untuk berkreativitas dan berkarya. Bahkan, memberi manfaat kepada lingkungan sekitar.

Mereka adalah para guru  tunanetra menjadi mengajar  musik di Sanggar Sunar Sanggita Musik. Muridnya adalah-adalah anak-anak yang bukan berkebutuhan khusus, Orang tua mereka mempercayai anaknya belajar bermain alat musik. Bahkan, hasilnya anak didik mereka tampil memukau di Trans Studio Mall, Denpasar Sabtu (⅓/2025) lalu.

Salah seorang pengajar musik di Sanggar  Sunar Sanggita yang merupakan tunanetra, Dede Satria, mengaku sangat bangga diberikan kepercayaan. Ditambah murid-muridnya berhasil menampilkan apa yang telah ia ajarkan.

 

”Dorongan kuat dari orang tua membuat mereka lebih rajin belajar dan lebih mengerti dalam keadaan. Ini luar biasa bagi saya mendapat kesempatan menjadi pengajar. Saya lebih percaya untuk mengajar anak-anak bukan disabilitas. Karena saya ada disabilitas,” ungkapnya. 

Dede menuturkan, ia hanya mengandalkan pendengaran  untuk transfer ilmu ke anak didiknya.

Tak dapat melihat hal itu tidak menjadi kendala bagi Dede Satria. Ia justru senang dilibatkan dan dipercaya.

”Dalam pre-concert saya tercengang dan kagum permainan keyboard dari kelompok musik Nada Berani,” imbuhnya. 

 

Sementara itu, Founder Sanggar Sunar Sanggita I Made Prasetya  Wiguna Mahayastra  menerangkan, pengajar disabilitas mengajarkan berbagai alat musik seperti piano, drum, dan gitar.

Jumlah guru yang tunanetra sebanyak 14 orang.  Mereka telah mengajarkan sekitar 250 orang anak.

Saat penampilan Sabtu lalu, pertunjukan dibagi menjadi kelompok dan individu. Bagi peserta yang berkelompok rerata berusia di bawah 8 tahun dan individu.  

 

Prasetya menginginkan  tidak hanya sekadar bermain musik, namun membentuk keberanian dan mental yang kuat.

Tidak hanya itu, ia juga berharap para murid tersebut memiliki sosial dan empati yang tinggi. Sanggarnya yang berkolaborasi dengan Sanggar Watra,  tampil untuk menyatukan keragaman. 

”Bahkan ada ya yang baru 1,5 bulan belajar.  Kami melihat berani tampil ke depan dapat memiliki mental kuat,” tandasnya.

 

Tidak hanya musik tapi bermacam hal dalam tumbuh kembang anak. Penampilan bermain piano, drum, gitar akustik dan penampilan band di acara ingin menunjukkan penyandang disabilitas tuna netra tidak lagi disepelekan mereka dapat menunjukkan ke masyarakat bahkan tuna netra memberikan pembelajaran musik kepada yang non disabilitas.

”Biasanya yang non disabilitas mengajarkan yang penyandang disabilitas ini kebalikan ya kami ingin menunjukkan semua setara. kesetaraan itu, yang disabilitas bisa mengajar non disabilitas,” ungkapnya. 

Jumlah peserta dalam pre-concert puluhan orang, terdiri dari 15 orang disabilitas dari Sanggar Watra dan 40 anak yang non-disabilitas.

 

Adapun nama-nama yang tampil Saayi, Avka, Wikan, Karim, Ade Angga, Revha, Nirmala, Gus Kana, Lakshmi Handika, dan Agung. Menurut Prasetya, sejauh ini, pre-concert itu adalah pertunjukkan pertama yang didik oleh penyandang disabilitas.

Tindakan mulia menjadi bukti semua memiliki bakat dan potensi, serta  juga menghapus diskriminasi . Orang yang terbatas memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama.

”Kami membuktikan dari siswa yang diajarkan. kami harapkan bisa mengembangkan keberanian mentalitas dan kepercayaan diri.,” tukasnya.

 

Jadi setelah ini lanjutnya, tidak ada stigma negatif bahwa ada siswa yang ingin mengajar penyandang disabilitas takut tidak dapat menghasilkan anak -anak didik yang baik.

”Kami ingin menunjukkan sebuah keberagaman mereka bisa berinteraksi dengan teman-teman non-disabilitas dari watra teman-teman disabilitas sama  kreativitas dan bakatnya sama. dalam satu event tidak dapat  keberanian tampil guru tunanetra ambilkan siswa bagaimana dikenalkan keberagaman dalam satu event ini harapannya ke depan berjiwa sosial tinggi dan empati sehingga bisa menolong dan membantu bersama,” tutur Prasetya.

Prasetya selaku  founder dan CEO mengapresiasi seluruh penampilan siswa. Baginya, tidak ada yang paling bagus atau yang paling jelek. Semua telah berani tampil, itu yang luar biasa.

"Mereka sangat luar biasa. Tidak ada yang paling bagus atau jelek. Berani tampil saja luar biasa," tandas Prasetya.***

Editor : M.Ridwan
#tuna netra #Denpasar Bali #difabel #disabilitas #band #musik