Lazimnya banyak orang pilih pensiun di usia senja/uzur. Namun tidak demikian dengan I Made Ngeplin. Warga Sanur Denpasar ini memilih tetap bekerja meski usia sudah 71 tahun. Mengapa?
NAMANYA terbilang unik, I Made Ngeplin. Ia tampak dengan penuh ramah mencacat pesanan para konsumen yang datang di Warung Saro, jalan Tandakan, Sanur, Denpasar Selatan.
Sesekali dia melempar senyum ramah kepada para pengunjung warung. Made Ngeplin sendiri merupakan karyawan tertua di restoran yang menyajikan masakan Asia ini. Seperti Thailand, Vietnam, Jepang dan tentu masakan khas Nusantara Indonesia, khususnya Bali.
Ngeplin mengaku jika dirinya bekerja di tempat itu sejak sebelum pandemi Covid-19. ”Pas korona sempat tutup. Setelah korona membaik ini buka lagi dan saya dipanggil lagi," bebernya ditemui di Warung Saro Selasa (22/4/2025).
Dia menceritakan, sebelumnya sempat bekerja di Beach Market Sanur selama kurang lebih 35 tahun. Setelahnya, dia pensiun di tahun 2009 lalu.
Setelah pensiun di tahun itu, pria yang akrab disapa Pak Made ini kerja sebagai petugas ronda jaga malam di Banjar tempat tinggalnya.
Melihat keinginan besar Pak Made untuk tetap bekerja di bidang hospitality, owner Warung Saro yang juga tinggal satu Banjar dengan Pak Made mengajaknya untuk bekerja di warung.
”Kebetulan kami satu Banjar sama ownernya saya diajak di sini. Krena dilihat saya pernah kerja di restoran. Saya di waiters di depan, bantu-bantu bersih menyiram dan menyapu," bebernya.
Saat ditanya kenapa masih tetap bekerja di usianya yang kini senja, Pak Made mengaku dirinya malah akan sakit jika tak bekerja.
”Kalau saya tinggal di rumah saya tambah sakit. Kalau sudah kerja saya bersemangat. Anak saya dua perempuan semua sudah menikah keluar di Tabanan, di Sanur Satu beda Banjar," tambahnya.
Andika Mahaputra, Manager Warung Saro Sanur menjelaskan, restoran dengan gaya bangunan khas Bali itu memang menerima karyawan tanpa mengenal batas usia.
Bahkan salah satu karyawati di bagian dapur juga berusia 60 tahun bernama Ni Nyoman Kartini. ”Kami tidak ada batasan usia, atau batasan pendidikan. Yang penting memang niat bekerja saja," akunya.
Dulunya, management sempat menerapkan batasan usia, namun ternyata karyawan yang direkrut tak memiliki skil. Padahal skil dalam hospitality sebenarnya bisa diajarkan oleh pihak management.
”Sekarang banyak yang punya skill, tali tidak niat bekerja, kadang diterima bekerja, datang terus besoknya bisa gak. Akhirnya membuat kami tak memandang usia. Dari awal kami juga training di sini soal hospitality," urainya.
Dengan keberadaan para staf yang berusia senja seperti Pak Made, para costumer yang datang menyambut dengan positif. Mereka bisa mendapatkan pelayanan prima dan penuh ramah.
”Konsep restaurantnya orang yang datang ke sini bisa menikmati rumah khas Bali. Sehingga orang ke sini merasa seperti di rumah. Menu kami juga seperti itu, jadi kami memakai menu dan bahan baku Bali. Kami hand made semua makanan, itu kenapa prosesnya agak lama pembuatannya," pungkasnya.***
Editor : M.Ridwan