Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Liku-liku Perjuangan Made Mardika, Pegawai DLH Gianyar : Gaji Tukang Sapu Rp 1,5 Juta saja, Jualan Es untuk Hidup Lebih Layak

Ida Bagus Indra Prasetia • Minggu, 4 Mei 2025 | 19:50 WIB
PEKERJA KERAS : Made Mardika saat meracik es roti buatannya di halaman Radio Gelora Gianyar. (ida bagus indra prasetia)
PEKERJA KERAS : Made Mardika saat meracik es roti buatannya di halaman Radio Gelora Gianyar. (ida bagus indra prasetia)

Kerja keras yang layak diacungi jempol. Made Mardika kesehariannya merupakan tukang sapu jalan di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gianyar. Namun gaji minim dan biaya hidup yang serba mahal membuatnya tidak bisa mengandalkan satu pekerjaan saja.

BUNYI tolat-tolet itu semakin nyaring saja. Suara terompet dari penjual es keliling terdengar di Jalan Manik Gianyar. Di halaman depan Radio Gelora, penjual es yang bernama Made Mardika itu langsung memarkir sepeda motornya.

”Mau es?” tanya Mardika kepada semua orang yang ditemuinya pada Rabu (30/4/2025). Setelan yang dikenakannya adat madya. Ia mengenakan udeng, baju kaus, saput hingga kamen.

Dia juga mengenakan sepatu. Di gerobak dari aluminium ada tulisan dua tulisan. Es Roti Krama Bali, di sisi kiri. Tulisan lainnya: Zaman Now.

Saat ada pembeli yang berminat membeli, ia langsung menyediakan roti lapis. Kemudian dioleskan selai merah. Di atas roti itu langsung ditumpuk es krim buatannya. 

”Ini harganya Rp 5 ribu,” jelasnya. Es buatannya ini dijajakan ke kantor-kantor pemerintahan hingga ke kantor kepolisian. ”Di mana ada ramai-ramai, ke sana saya,” terangnya.

Ia mengaku, berjualan es sejak beberapa tahun lalu untuk menambah kebutuhan dapur. ”Saya kalau pagi jadi tukang sapu. Saya pegawai DLH,” ungkapnya.

Ia terang-terangan mengungkap gajinya sebulan dari tukang sapu sebesar Rp 1,5 juta. ”Kalau andalkan gaji segitu, tidak cukup. Kebutuhan banyak,” ujarnya. 

Akhirnya ia pun putar otak untuk memperoleh penghasilan tambahan. ”Setelah nyapu pagi, siang saya jualan es keliling,” ungkapnya.

Diakui, dari berjualan es, ada tambahan penghasilan untuk keperluan rumah tangga. ”Sehari tergantung. Rata-rata 50 roti habis,” terang pria asal Banjar Roban, Kelurahan Bitera, Kecamatan Gianyar tersebut.

Mardika menerangkan, es dibuat sendiri di rumahnya dengan metode yang dipelajari secara otodidak. Olahan kemudian didiamkan menunggu menjadi es. 

Sembari menunggu olahannya menjadi es, Mardika di pagi hari bekerja sebagai tukang sapu. ”Saya kerja paruh waktu. Kerja sebentar. Setelah itu pulang,” ujarnya. 

Sampai di rumah, Mardika kemudian menyiapkan bahan seperti roti hingga selesai. Es kemudian dimasukkan ke dalam baskom. 

Setelah semuanya siap, Mardika pun jualan keliling dengan naik sepeda motor Honda Karisma. 

Selain itu, banyak waktu lengang di siang hari hingga sore. ”Daripada tidak ngapa-ngapain, saya keliling jualan es,” ungkapnya. 

Dari berjualan es ini, ia pun banyak mengenal para pegawai di lingkup pemerintahan dan kepolisian. ”Lumayan banyak yang berlangganan. Hasilnya untuk kebutuhan di rumah. Terimakasih,” terangnya. 

Di bagian belakang motornya, juga digantung tong sampah. ”Plastik bungkusnya, buang di  sini,” ujarnya sembari menunjukkan tong sampah. 

Sementara itu, salah satu pembeli es, Radit asal Tegallalang mengaku senang bisa membeli es dari Mardika.

Dari sisi harga terjangkau dan masuk akal, tidak kemahalan. ”Rasanya enak. Es roti ini, enak dan bikin kenyang. Untuk ganjel pas lagi lapar,” pungkasnya. [ida bagus indra prasetia] 

Editor : Hari Puspita
#pegawai dlh #DLH #pedagang es #gianyar