Lika-liku mendampingi anak-anak penyandang tunanetra dalam berkarya menjadi tantangan tersendiri. Dalam waktu 3,5 bulan mampu menyelesaikan album berjudul Jalan Suara, garapan Yayasan Kesenian Sadewa Bali, Kolompok Sekali Pentas bersama komunitas netra di Bali. Seperti apa?
TAKJUB! Begitu Heri Windi Anggara, Perwakilan Kelompok Sekali Pentas menceritakan, bagaimana dia mendampingi anak-anak tunanetra dari Yayasan Dria Raba dalam menggarap musikalisasi puisi. Mereka lebih teliti dalam mendengar.
”Telinga lebih peka, mereka lebih tahu, saya ditegur kak kayaknya fals gitarnya,” kenang Heri saat konferensi pers peluncuran ini merupakan bagian dari The 6th Bali Creative Competition (BCC). Anak-anak tersebut akan tampil pada puncak pada pementasan musikalisasi puisi pada 11 Mei 2025 di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar. Karya mereka juga akan tersedia secara luas melalui platform digital seperti Spotify dan YouTube Music mulai 5 Mei 2025.
Hadir juga Ryan Indra Darmawan, Ketua Yayasan Kesenian Sadewa Bali menyampaikan, ada 10 puisi yang dijadikan musikalisasi puisi. Terdiri dari lima puisi berbahasa Indonesia dan Berbahasa Bali.
Dalam versi berbahasa Indonesia, karya yang diangkat meliputi Dongeng dari Utara oleh Made Adnyana Ole, Di Musim yang Lain, Aku Kembali oleh Ulfatin C. H., Surat Kertas Hijau oleh Sitor Situmorang, Pada Kematian Aku Bernaung oleh Cok Sawitri, dan Satu Perahu oleh Wayan Jengki Sunarta.
Sementara puisi berbahasa Bali yang diaransemen adalah Petapa Aksara oleh Mas Ruscita Dewi, Blabar Momo oleh Ni Kadek Widiasih, Gending Pragina oleh Tatukung, Kayu Cenana oleh Ki Dusun, dan Kangen oleh Made Sanggra.”
Tahun ini kami ingin kembali melibatkan teman-teman netra. Tapi tantangannya berbeda. Bagaimana mengkomunikasikan puisi kepada mereka yang tidak bisa membaca huruf—itu bukan hal mudah. Tapi kami bawa prosesnya dengan fun, dan justru dari situ, kekuatan mereka muncul,” ungkap Ryan Indra Darmawan, Ketua Yayasan Kesenian Sadewa Bali.
Ryan percaya kekuatan dan kelebihan teman-teman tunanetra dalam hal suara dan rasa.”Kami percaya teman-teman netra punya kekuatan dalam hal suara dan rasa. Ketika mereka diberi ruang, hasilnya selalu mengejutkan,” tambah Ryan.
Hadir juga langsung Ketua Yayasan Pendidikan Dria Raba, Ir. Ida Ayu Pradnyani Manthara, menyampaikan project ini bukan hanya memperkenalkan dunia seni kepada siswa-siswa tunanetra, tapi juga memberi ruang untuk berkembang tanpa tekanan.
“Kami tidak pernah memaksa. Mereka bebas memilih alat musik yang mereka suka. Kami hanya mendampingi, menyediakan pelatih, dan membiarkan mereka mengekspresikan diri. Dan ternyata, banyak yang awalnya asing dengan puisi kini bisa membacakannya dengan begitu dalam,” ungkap Dayu.
Baca Juga: RERAINAN & ALA AYUNING DEWASA, KAMIS (8/5/2025)
Dayu Pradnyani kagum dan bangga anak-anak didiknya terlibat langsung dalam proses membuat album tersebut.”Kami tidak diajimumpungkan. Anak-anak diajak betul-betul terlibat sejak awal, bukan hanya ditampilkan di akhir.”tuturnya.
Anak-anak tersebut masih duduk di bangku SMP dan SMA. Usia-usia paling muda 15 tahun hingga 22 tahun. Sambung Heri, saat mendampingi anak-anak mengerjakan musikalisasi puisi, perasaan lebih kuat. Bahkan, dengan puisi yang dibawakan membuat mereka tersentuk dan mudah terbawa perasaan.
”Puisi yang terlalu dalam ketika saya menceritakan terus kebawa. Bisa langsung agak lama membalikkanya. Saya berikan pengertian ini Cuma karya kalau pentas saja gunakan rasa ini. Sudah selesai latihan masih baper,” kenangnya saat diwawancarai kemarin Senin (5/5/2025) malam.***
Editor : M.Ridwan