DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Mentari pagi baru menyapa dengan cuaca cerah. Ada sosok I Nyoman Puja meniti perairan dangkal Serangan. Tangannya cekatan merapikan tali-tali budi daya rumput laut, sebuah rutinitas yang telah ia jalani selama bertahun-tahun.
Meski kini tak ada lagi jaminan hasil panen yang melimpah, semangat Nyoman Puja tak pernah surut. Ia merawat rumput lautnya dengan harapan dan keteguhan hati, menolak untuk menyerah.
Bagi warga pesisir Serangan, budi daya rumput laut bukan hanya soal mencari nafkah. Ini adalah warisan, identitas, dan napas kehidupan yang telah mereka jalani secara turun-temurun. Namun, laut yang dulunya bersahabat kini semakin menantang.
Cuaca tak menentu, kualitas air menurun, dan serangan hama datang tanpa aba-aba. "Sekarang banyak bibit dimakan hama sebelum panen," cerita Nyoman Puja, Ketua Kelompok Petani Rumput Laut Serangan. "Biasanya satu tali bisa dapat delapan sampai sepuluh kilo, tapi belakangan bisa kosong."
Bertahan di Tengah Tantangan
Tantangan terbesar yang dihadapi para petani adalah kehadiran hama ikan elak dan ikan tabasan yang menggerogoti rumput laut. Kondisi ini telah berlangsung selama berbulan-bulan, membuat panen semakin tidak menentu.
"Ada musim di mana kami hanya panen untuk menjaga agar bibit tidak hilang semua," ungkap Nyoman Puja. "Bukan untuk dijual, tapi agar tetap bisa menanam lagi musim berikutnya." Akibatnya, anggota kelompok petani pun kian berkurang. Sejak tahun 1996, banyak yang beralih profesi karena sulitnya mendapatkan penghasilan yang stabil.
Namun, di tengah kesulitan, para petani ini tidak sendirian. Nyoman Puja bersyukur atas dukungan berbagai pihak, salah satunya PT Bali Turtle Island Development (BTID).
"Dulu kami distribusi hasil panen pakai jukung, lewat air.
Sekarang, berkat jembatan dan jalan yang dibangun BTID, hasil panen bisa diangkut lewat darat. Jadi jauh lebih cepat dan efisien," jelasnya.
Para warga Serangan juga mulai berinovasi. Mereka tidak lagi hanya menjual rumput laut mentah, tetapi mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Mulai dari agar-agar rumahan, jajanan pasar, hingga kuliner khas Serangan seperti rujak bulung dan lawar laut.
Sayangnya, penurunan hasil panen juga berdampak pada usaha kuliner ini. Ni Kadek Erni, seorang penjual rujak bulung, mengaku sudah dua bulan tidak bisa menyajikan menu andalannya karena sulitnya mendapatkan bahan baku.
Para petani berharap dukungan berkelanjutan, seperti pelatihan budi daya yang adaptif dan bibit unggul, bisa menjadi solusi. Bagi mereka, rumput laut bukan sekadar komoditas, melainkan kehidupan yang harus terus dijaga.
"Saya hanya bisa berpaku pada regenerasi," ujar Nyoman Puja, menggantungkan harapannya pada generasi muda agar warisan ini tidak punah.***
Editor : M.Ridwan