Suara mesin tua Suzuki Carry terdengar parau saat melintasi jalanan Amlapura. Di belakang kemudinya, Amudin duduk tegak, matanya menatap lurus ke depan. Pria paruh baya ini adalah salah satu dari segelintir orang yang masih setia pada profesi sopir angkot di Karangasem, sebuah pekerjaan yang dulu begitu berjaya, namun kini perlahan tapi pasti ditelan zaman.
HARI itu pagi masih membuta. Sejak subuh, Amudin sudah memulai hari. Trayeknya tak berubah sejak era 90-an: Amlapura-Selat-Besakih.
Angkotnya yang berwarna hijau itu adalah saksi bisu kejayaan moda transportasi umum di Karangasem. Dulu, penumpangnya membeludak, terutama para murid sekolah dan pedagang yang ramai memenuhi setiap kursi. Tapi kini, yang tersisa hanya sepi.
"Saya narik sampai siang saja," tutur Amudin dengan suara pelan. "Dulu banyak murid yang naik, sekarang jarang. Sudah banyak yang bawa motor sendiri. Kredit dipermudah."
Kata-kata itu bukan sekadar keluhan, melainkan potret nyata perubahan yang terjadi. Jalanan Karangasem kini dipenuhi deru motor pribadi, sementara angkot-angkot yang usianya sudah uzur terpinggirkan.
Dari ratusan unit yang pernah beroperasi, kini hanya sekitar 50 angkot yang masih bertahan.
Meski demikian, Amudin tak pernah menyerah. Ia tetap bersyukur. Angkot tuanya adalah miliknya sendiri, jadi ia tak perlu pusing memikirkan setoran.
"Mau kerja apalagi," ucapnya, "Ini sudah pekerjaan saya puluhan tahun."
Kondisi angkotnya sama seperti sopir lain, menua tanpa peremajaan. Namun, bagi Amudin, kendaraan ini lebih dari sekadar alat transportasi. Ini adalah sahabat setia yang menemaninya mencari nafkah.
Di kantornya, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Karangasem, Tjokorda Surya Dharma, mengonfirmasi kondisi ini.
Baca Juga: Pelajar Belajar Online, Sopir Angkot di Gianyar Digelontor Bansos
Ia mengakui, kehadiran kendaraan pribadi, terutama motor, serta keberadaan transportasi online telah menggerus eksistensi angkot.
Ketika matahari mulai meninggi, Amudin memutuskan untuk kembali ke terminal Karangasem. Mungkin hari ini ia hanya membawa beberapa penumpang, tapi ia tahu, roda kehidupannya tetap harus berputar, sama seperti roda tua angkotnya yang setia menemani perjuangannya di jalanan Karangasem.[*]
Editor : Hari Puspita