Garam tradisional dari Kusamba,Klungkung, ini mendunia. Tapi, sisi lain dari produksi garam itu ternyata dilakukan oleh mereka yang menapaki usia uzur. Perlu Upaya serius untuk pelestarian.
DEBUR ombak yang ritmik itu seakan menjadi musik latar mereka yang tengah sibuk bekerja.
Di pesisir Pantai Kusamba, Klungkung, Bali, Mangku Rena,73, adalah salah satu dari segelintir penjaga warisan budaya yang terancam punah.
Sebagai generasi keempat dari keluarganya, ia masih gigih memproduksi Garam Kusamba, sebuah tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun sejak zaman kerajaan.
Namun, di balik popularitas garam yang kini mendunia, Mangku Rena menaruh kekhawatiran besar: profesi petani garam ini semakin ditinggalkan oleh generasi muda.
Mangku Rena, yang memulai usaha ini sejak tahun 1976, adalah salah satu pelaku yang menjaga tradisi ini tetap hidup. Garam yang kini dikenal dengan nama Uyah Kusamba Alami (Umami) ini memiliki proses pembuatan yang unik.
Butuh dua hari untuk menghasilkan garam murni. Pertama, pasir disiram dengan air laut, dijemur, kemudian air asin dari pasir disaring dan dijemur kembali di bawah terik matahari.
"Ini adalah warisan dari leluhur dari zaman kerajaan. Saya aktif mulai tahun 1979 setelah kedua orang tua saya," ujar Mangku Rena.
Setiap hari, dari usaha miliknya, ia mampu menghasilkan 10-15 kilogram garam murni. Keunikan proses inilah yang membuat Garam Kusamba diminati tidak hanya di Bali, tetapi juga di kota-kota besar Indonesia, bahkan hingga Jepang.
Ancaman Kepunahan karena Minimnya Regenerasi dan Pengoplosan
Di tengah sorotan global, realitas di lapangan sangat mengkhawatirkan. Mangku Rena mengungkapkan bahwa di Pantai Kusamba, kini hanya tersisa sekitar 14-16 petani garam aktif, yang sebagian besar berusia di atas 50 tahun. Minimnya minat anak muda untuk meneruskan profesi ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain rumitnya proses produksi dan keterbatasan musim produksi yang hanya bisa dilakukan selama musim kemarau.
"Kekhawatiran saya sudah pasti ada. Kalau ini tidak ada generasi yang meneruskan, maka ini akan punah," ungkapnya dengan nada prihatin.
Selain masalah regenerasi, para petani juga dihadapkan pada tantangan lain: pengoplosan garam Kusamba. Banyak garam oplosan yang dijual lebih murah di pasaran dengan label Garam Kusamba.
Padahal, menurut Mangku Rena, rasa garam oplosan lebih asin, sementara Garam Kusamba asli memiliki rasa yang lebih soft dan autentik.
Dukungan Pemerintah Belum Cukup Menjamin Keberlanjutan
Upaya pemerintah provinsi Bali dan BUMN yang telah memberikan bantuan alat dan dukungan pemasaran memang membantu. Namun, menurut Prof. Raka Suardana, seorang ekonom dan akademisi dari Undiknas Denpasar, jumlah petani garam tradisional di Bali terus menyusut.
Prof. Raka Suardana mencatat, berdasarkan data tahun 2022, terdapat sekitar 470 petani aktif di Bali dengan produksi mencapai 1.531 ton. Namun, angka ini masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan garam di seluruh Bali.
"Keberlanjutan petani garam tradisional Bali cukup terancam... asalkan ada dukungan yang tepat," ujarnya.
Beberapa faktor lain yang memperburuk situasi termasuk persaingan harga dengan garam impor dan industri, cuaca buruk, serta abrasi pantai yang mengikis lahan produksi. Semua tantangan ini membuat profesi sebagai petani garam tradisional semakin tidak menarik bagi generasi muda.[*]
Editor : Hari Puspita