MEDAN, radarbali.jawapos.com - Setidaknya ada dua Kampung Bali di Sumatra Utara dan keduanya kini eksis jadi destinasi wisata.
Satu berada di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dan satunya lagi berada di Kabupaten Langkat. Secara umum keduanya muncul karena efek dari letusan Gunung Agung pada 1963 lalu. Pindah dari Pulau Dewata tanpa meninggalkan kepercayaan dan tradisinya.
Perbedaan dua Kampung Bali ini tidak sekadar pada lokasinya saja, namun juga ada pada perkembangannya.
Baca Juga: BKN Menyesuaikan Kembali Jadwal Pengangkatan PPPK Paruh Waktu Tahun Anggaran 2024, Cek Disini
Kampung Bali di Desa Pegajahan, Sergai
Adalah PTPN IV yang berperan di sini. Pada 1963 terjadi letusan Gunung Agung di Bali dan perusahaan kelapa sawit ini menampung warga yang mau berpindah.
Warga tersebut kemudian diberi kontrak kerja di Kebun Adolina di Sergai. Saat itu ada sekitar 53 (KK) atau 200 jiwa.
Kebanyakan dari mereka dikontrak selama enam tahun dan sebagian diperpanjang. Dari lamanya kontrak yang dibuat oleh PTPN kala itu, mereka menetap dan membuat rumah di daerah tersebut.
Ratusan jiwa itu kemudian bermukim di Desa Pegajahan, lokasinya kurang lebih tiga jam dari Kota Medan.
Desa Pegajahan ini pun dari persimpangan Jalan Lintas Sumatra di Kecamatan Perbaungan hanya berjarak 12 hingga 15 kilometer saja.
Komunitas ini hidup berdampingan dengan sejumlah buruh perkebunan lainnya yang memang berasal dari bermacam suku seperti Jawa, Simalungun, Melayu, dan lainnya.
Masyarakat Kampung Bali di Desa Pegajahan masih menjaga pola kehidupan kampung halamannya meski telah lama tinggal di perantauan.
Baca Juga: Ole Romeny Comeback! Senjata Baru Timnas Indonesia Jelang Lawan Arab Saudi dan Irak
Ini bisa jelas kelihatan lewat patung ukir dan tradisi turun-temurun dari leluhur umat Hindu Bali.
Sekira 1989 didirikan sebuah pura di Dusun II B Desa Pegajahan, pembangunan pura ini dibantu oleh sejumlah warga Bali yang tersebar di beberapa wilayah Sumatra Utara.
Pura tersebut diberi nama Pura Penataran Dharmaraksaka, seluas satu rantai dan terbagi menjadi tiga bagian bangunan.
Pertama, nista yakni kaki. Madya atau pinggang. Dan terakhir, utama atau kepala.
Di area utama terdapat beberapa bangunan-bangunan tempat persembahan umat Hindu Bali, di antaranya Patung Saraswati, Anmasana, dan sebagainya.
Baca Juga: Ole Romeny Comeback! Senjata Baru Timnas Indonesia Jelang Lawan Arab Saudi dan Irak
Kampung Bali di Desa Paya Tusam, Langkat
Kampung Bali di Kabupaten Langkat ini letaknya tepat di Desa Paya Tusam, Kecamatan Sei Wampu.
Untuk menuju ke Kampung Bali ini, jarak yang ditempuh dari Kota Binjai sekitar 30 km. Jadi dari Medan mengarah ke Aceh, bukan ke Jawa.
Kampung ini pertama kali berdiri di Langkat sekira 1973. Awalnya adalah lahan kosong yang disebut sebagai Tanah Negara Bebas (TNB).
Di lahan tersebut kemudian didirikan kampung bagi warga Bali yang kontrak kerjanya habis di perkebunan.
Baca Juga: Astaga! Meskipun Dalam Hitungan Detik, Belasan Rumah di Gilimanuk Rusak Diterjang Puting Beliung
Warga Bali itu terdiri dari 15 KK, sebelumnya dikontrak untuk mengelola sebuah kebun di daerah Kecamatan Wampu, Langkat.
Seiring waktu, jumlah penduduk pun semakin berkembang. Di Kampung Bali ini juga diadakan Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka.
Pada 1976 Pura Penataran Agung Widya Loka Nata baru dibangun. Dan, sejak 1988 sudah ada pendidikan Agama Hindu di sekolah daerah tersebut.***
Editor : M.Ridwan