KOMANG Kerta Yasa dan Putu Rika adalah pasangan suami istri (pasutri) berkebutuhan khsusus yang tinggal di Lingkungan Tegal Saat, Kelurahan Kapal, Mengwi, Badung. Mereka baru saja dikaruniai seorang putri yang dilahirkan 26 September 2025. Namun, bayi mungil itu berpotensi mengalami stunting atau gagal tumbuh kembang karena kurang gizi.
mendung yang menggelayut sejak pagi akhirnya tumpah Minggu siang (9/11/2025). Di tengah hujan itu, rombongan tim pengabdian masyarakat kolaborasi Program Studi S3 Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (Unud) dengan BKKBN Perwakilan Provinsi Bali dan kelurahan Kapal berkunjung ke tiga keluarga sasaran. Salah satunya adalah rumah pasutri Komang Yasa dan Putu Rika.
Saat rombongan datang, ayah Rika sudah berdiri menyambut. Rumah yang ditinggali Rika sangat sederhana. Di dekat pintu masuk berdiri dapur yang sudah rapuh, pintunya banyak berlubang. Di depan dapur terdapat sumur tua. Di rumah inilah Komang Yasa dan Putu Rika hidup mengasuh bayinya.
”Selamat datang, silakan, silakan, duduk,” ujar ayah Rika menyambut rombongan. Tiga ekor anjing berseliweran seperti sibuk ikut menyapa tamu yang datang. Sementara Rika dan suaminya sudah menunggu duduk lesehan di teras beralas terpal merah.
”Cantik bayinya, diberi ASI atau susu formula ini?” tanya Kepala BKKBN Perwakilan Provinsi Bali, Dr. dr. Ni Luh Gede Sukardiasih M.For., M.A.R.S didampingi Koorprodi S3 Kajian Budaya Unud, Prof. I Nyoman Darma Putra, M. Litt., Ph.d; Lurah Kapal I Nyoman Adi Setiawan, S.STP, M.AP; para relawan dan mahasiswa S3 Kajian Budaya.
Rika mengalami tunagrahita, sedangkan suaminya mengalami gangguan pada mata. Rika menyebut selain diberi ASI, juga diberi susu tambahan. Ini karena asinya tidak lancar.
Sukardiasih lantas memberi tips agar ASI bisa lancar. Ia juga menekankan ASI harus diberikan eksklusif selama enam bulan, sebab ASI memiliki keunggulan yang tidak dimiliki susu formula. ”ASI sangat baik untuk tumbuh kembang bayi, juga untuk mencegah stunting,” imbuhnya.
Di sela edukasi terungkap fakta menarik tentang pernikahan Rika dan Yasa. Mereka mengaku saling kenal lewat media sosial TikTok. Berawal dari TikTok itulah cinta bersemi di dunia nyata. Jarak antara Gianyar dan Kapal tak menjadi penghalang bagi Yasa. Ia siap nyentana demi pujaan hatinya.
”Tiyang ngalih sing apa, tiyang sing ngalih tanah, tiyang tulus nyentana (Saya tidak mencari apa-apa, saya tidak mencari tanah, saya tulus nyentana, Red),” ucap Yasa. ”Rika percaya?” seloroh Prof Darma Putra. ”Nggih, tiyang percaya,” jawab Rika disambut tawa rombongan.
Prof Darma Putra lalu menyerahkan bantuan secara simbolis pada keluarga Rika. Bantuan berupa sembako diserahkan langsung pada keluarga Rika. Sementara bantuan berupa uang tunai diserahkan pada relawan. Uang tunai tersebut berasal dari donatur yang bersedia menjadi orang tua asuh.
Selanjutnya uang tersebut dibelikan makanan bergizi seimbang senilai Rp 15 ribu setiap hari selama enam bulan ke depan. Penyaluran makanan ini akan diawasi dan dievaluasi secara periodik.
”Sehat-sehat sareng nak alit, nggih,” pesan Prof Darma Putra pada Rika dan Yasa.
Pengabdian pada masyarakat dengan tema Pemberdayaan Keluarga Berisiko Stunting Berbasis Budaya ini melibatkan banyak pihak. Sebelum berkunjung ke rumah sasaran, tim pengabdian mendapat sosialisasi dan diskusi di ruang rapat Kantor Lurah Kapal di Jalan Raya Kapal.
Acara sosialisasi dihadiri Sekaha Teruna-Teruni (STT) atau muda-mudi setempat, para dosen S2 dan S3 Kajian Budaya, mahasiswa S3 Kajian Budaya, Lurah Kapal, perwakilan tokoh masyarakat dan adat, serta relawan.
Di hadapan para peserta, Lurah Kapal, I Nyoman Adi Setiawan dalam sambutannya mengapresiasi pengabdian masyarakat di Kelurahan Kapal. Dijelaskan, kondisi sosial di Bali saat ini cukup mengkhawatirkan, karena angka bunuh diri di Bali atas angka nasional.
”Penyebabnya 20 persen adalah masalah keluarga, salah satunya ketiadaan orang tua. Kami berterima kasih sudah mau menjadi orang tua asuh bagi warga kami,” ungkapnya.
Sementara itu, Prof Darma Putra mengatakan, mahasiswa sengaja diajak turun ke lapangan untuk melihat langsung realita masyarakat. Ini penting untuk menumbuhkan rasa empati dan implementasi dari ilmu yang didapat di kampus. ”Agar tidak hanya membaca buku, tapi bisa mendalami. Bisa mendalami kalau mengalami,” tegasnya.
Senada dengan Prof Darma Putra, dosen S3 Kajian Budaya, Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si mengatakan, pengabdian masyarakat merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bertujuan memperdalam ilmu di kelas.
”Ilmu di kelas tidak ada gunanya kalau tidak dipraktikkan, karena tujuannya mempelajari ilmu itu adalah membantu masyarakat. Yang harus diingat, kampus tidak bisa berdiri sendiri, maka semua harus berkolaborasi agar ilmu sampai ke masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Sukardiasih dalam presentasinya mengungkapkan cara untuk mewujudkan keluarga berkualitas. Semua dimulai dari masa pranikah. ”Harus ada konsepsi antara calon pengantin, sehingga saat menikah tidak hanya siap fisik, tapi juga mental. Ini penting untuk mencegak risiko stunting pada generasi baru yang dilahirkan,” jelasnya.
Pihaknya telah menggalakkan Gerakan Cegah Stunting (Genting) untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan baduta (0-23 bulan). Semua itu bisa berjalan karena ada kolaborasi dengan banyak pihak. ”Seperti sekarang ini, kami mencari orang ang mampu dan mau menjadi orang tua asuh,” tukas alumni S3 Kajian Budaya itu. ***
Editor : Maulana Sandijaya