Di bawah langit malam yang sunyi, suasana di Pura Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Bangli terasa berbeda dari biasanya, Sabtu (17/1/2026) malam lalu. Tak ada suara riuh, yang terdengar hanyalah lantunan doa yang syahdu dan aroma dupa yang menyeruak di antara jeruji besi.
SAAT malam syahdu itu, sebanyak 78 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang beragama Hindu berkumpul dalam satu niat yang sama: merayakan Hari Raya Siwaratri.
Bagi mereka, malam ini bukan sekadar rutinitas kalender keagamaan, melainkan sebuah momen sakral untuk "mengetuk pintu langit" dan merenungi tumpukan dosa yang pernah dilakukan di masa lalu.
Menundukkan Ego, Membasuh Batin
Rangkaian ibadah dimulai dengan persembahyangan bersama yang khidmat. Di hadapan Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Siwa, para warga binaan ini tampak menunduk dalam, seolah sedang melepaskan beban berat yang selama ini menghimpit pundak mereka.
Ni Nyoman Lestiawati, penyuluh dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli yang hadir malam itu, memberikan pesan yang menyentuh sanubari. Ia menekankan bahwa Siwaratri adalah momentum emas untuk melakukan pengendalian diri atau jagra.
"Siwaratri mengajarkan kita untuk sejenak menghentikan hiruk-pikuk dunia, menundukkan ego, dan merenungkan setiap perbuatan yang telah lalu. Malam perenungan ini bukan untuk menghakimi diri sendiri, melainkan jalan penyadaran agar kita mampu menata kehidupan yang lebih baik," tuturnya dengan lembut di hadapan puluhan warga binaan.
Bekal Pulang Menuju Dharma Bagi mereka yang sedang menjalani masa pidana, nasihat tersebut menjadi oase di tengah gersangnya penyesalan. Nilai-nilai Siwaratri dianggap sangat relevan sebagai fondasi untuk membangun sikap disiplin dan tanggung jawab.
Lestiawati berharap, momen "Malam Siwa" ini menjadi titik balik bagi para warga binaan. Harapannya, mereka tidak hanya sekadar terjaga (tidak tidur) semalam suntuk, tetapi benar-benar terjaga kesadarannya untuk hidup sesuai ajaran Dharma.
“Kami ingin warga binaan memperkuat nilai keagamaan sebagai bekal kepribadian. Sehingga saat masa pidana usai, mereka tidak lagi menoleh ke belakang sebagai pesakitan, melainkan siap kembali ke masyarakat sebagai insan baru yang lebih positif dan bertanggung jawab,” pungkasnya.
Di balik tembok tinggi Rutan Bangli, Siwaratri tahun ini menjadi bukti bahwa selalu ada ruang bagi penyesalan, dan selalu ada jalan bagi mereka yang ingin membasuh masa lalu dengan cahaya pertobatan. [*].
Editor : Hari Puspita