Bicara perjuangan perempuan dan emansipasi, selalu tertuju pada RA Kartini. Padahal jauh dari pedalaman Koto Gadang, Sumatera Barat, ada sosok yang mampu mengguncang dengan pemikiran dan penanya. Ia bernama Roehana Koeddoes atau Siti Roehana, jurnalis perempuan pertama yang memperjuangkan hak-hak perempuan dari media dan literasi.
KOTO GADANG, di sebuah masa ketika dunia perempuan hanya sebatas dapur dan dinding kamar pingitan, seorang gadis kecil bernama Roehana sudah berani bermimpi melampaui zamannya.
Lahir pada 20 Desember 1884, Roehana bukan sekadar nama dalam buku sejarah; ia adalah api yang membakar tabu pendidikan bagi perempuan pribumi.
Kisah heroik sang Pahlawan Nasional ini kembali menggema dalam diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes" yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Jumat (6/2/2026).
Di sana, sosok Roehana dikenang bukan hanya sebagai jurnalis perempuan pertama, tapi sebagai pendidik yang membangun "republik kecil" dari halaman rumahnya.
Guru Kecil di Balik Jendela
Keberuntungan Roehana bermula dari sang ayah, Mohamad Rasjad Maharadja Soetan. Sebagai pegawai kejaksaan Hindia-Belanda yang melek literasi, ia membekali putrinya kemampuan membaca dan menulis—sebuah kemewahan yang mustahil didapat anak perempuan lain kala itu.
Namun, Roehana tidak egois. Di usia yang baru menginjak delapan tahun, ia sudah menjadi "guru" bagi teman-teman sebayanya. Saat anak-anak lain sibuk bermain, Roehana mengajak mereka duduk di halaman rumah, mengeja huruf, dan merangkai kata.
Bahkan, bakatnya begitu luar biasa hingga ia menjadi sosok yang mengajari Sutan Sjahrir—sang mantan Perdana Menteri Indonesia yang juga saudaranya—cara menulis. "Hebatnya, sosok beliau mengajari Sutan Sjahrir menulis, itu Ibu Roehana Koeddoes," ungkap Uni Lubis, Pemimpin Redaksi IDN Times dalam diskusi tersebut.
Manifesto Perubahan Lewat Soenting Melajoe
Roehana adalah pengumpul bahasa. Ia fasih berbahasa Arab, Melayu, hingga Belanda.
Kecerdasan ini membawanya masuk ke ruang redaksi dan mendirikan Soenting Melajoe pada 1911. Lewat media ini, ia menyuarakan jeritan hati perempuan yang tertindas.
Trini Tambu, Ketua Yayasan Amai Setia, menunjukkan salah satu kutipan tajam Roehana tahun 1911: “Kaum wanita harus dimajukan mengikuti aliran zaman... Untuk itu, tidak dapat tidak kaum wanita pun harus memasuki sekolah seperti kaum pria.”
"Tulisan itu bukan sekadar opini, tapi manifesto perubahan. Ia menegaskan bahwa perempuan perlu diedukasi untuk membangun bangsa," tegas Trini.
Amai Setia: Warisan yang Tak Lekang Waktu
Perjuangan Roehana tidak berhenti di atas kertas. Pada 1915, ia mendirikan Yayasan Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang. Gedung yang hingga kini masih berdiri kokoh itu menjadi saksi bisu bagaimana Roehana mengajarkan perempuan untuk "berdikari".
Di sana, para perempuan tak hanya belajar baca-tulis, tapi juga diajarkan keterampilan tangan yang memiliki nilai ekonomi. Tujuannya jelas: agar perempuan punya penghasilan sendiri dan mampu membantu ekonomi keluarga tanpa harus bergantung sepenuhnya pada orang lain.
Kini, lebih dari satu abad berlalu, semangat Roehana masih menjadi cermin bagi perempuan Indonesia. Trini Tambu mengingatkan bahwa perjuangan belum usai. Masih banyak ruang perbaikan untuk mencapai kesetaraan yang dicita-citakan Roehana.
“Itulah cara terbaik kita menghargai Roehana Koeddoes: dengan terus bekerja keras memperbaiki keadaan,” tutupnya.[*]
Editor : Hari Puspita