Pada 11-13 Februari 2026, jurnalis Radar Bali berkesempatan berkunjung ke Kota Bangkok, Thailand. Di hari pertama tiba, bersama Epson Indonesia, menyusuri sudut kota Bangkok dan mencoba kuliner di pasar malam.
MENEMPUH perjalanan udara kurang lebih 3,5 jam dari Bandara Soekarno Hatta, rombongan jurnalis berbagai daerah di Indonesia, tiba di Bandara Suvarnabhumi, Thailand, Rabu (11/2/2026) sekitar pukul 14.30.
Tur leader langsung mengangkat 2 bendera agar rombongan tidak tercerai berai. ”Antrean Imigrasi Thailand kali ini super duper ramai,” ujar salah satu tur leader, Benny dari Great Union Travel.
Kurang lebih sekitar 1 jam, satu persatu peserta rombongan masuk pemeriksaan Imigrasi. Paspor, sidik jari dan wajah dicek.
Tur leader asal Bangkok, Bacong menambahkan, di bulan ini, Thailand diuntungkan dengan musim dingin di Eropa. ”Eropa sedang musim dingin, maka orang Eropa memilih Thailand sebagai rumah kedua mereka,” ujar Bacong yang fasih berbahasa Indonesia itu.
Di bulan ini, kata dia, Thailand justru ramai kunjungan. ”Bukan di pergantian tahun saja, bulan ini memang ramai. Antrian Imigrasi bisa sampai 2 jam kalau bersamaan datang,” jelasnya.
Bacong melanjutkan, wisatawan diberikan banyak pilihan wisata. Dari wisata budaya dengan kuil yang berdiri ratusan tahun dan kerajaan yang megah.
Kemudian ada pilihan pantai mirip Kuta di Pattaya. Ada pula wisata kuliner di pasar malam. Hingga pusat kota dengan beragam mal besar.
Di pinggir trotoar kota, mirip Jogja, berjejer aneka kuliner dan pedagang souvenir. Bahkan, transportasinya bernama tuk-tuk, mirip bajai di Jakarta.
Perjalanan dilanjutkan ke kuil Wat Arun. Secara kebetulan, jurnalis bertemu pengusaha Singaraja yang liburan bersama keluarganya.
Pengusaha itu menyebut kebersihan menjadi pembeda antara Thailand dan Bali. ”Coba lihat pedagang pinggiran mereka. Walaupun jualan pakai rombong, mereka bersih,” ujarnya.
Yang lebih khusus, beberapa toko di Thailand memasang gambar daun ganja yang berarti toko tersebut legal menjual rokok berbahan ganja.
Di pasar tradisional, ganja atau dalam bahasa Thailand dinamakan Kancha, diperjualbelikan secara bebas di beberapa stand kosmetik dan kuliner pasar malam. ”Disini kancha selain untuk rokok (cimeng, red) juga untuk teh. Juga dijadikan balsem,” imbuh Bacong.
Kata dia, efek Kancha ini sebagai obat tradisional. ”Tapi jangan ada yang konsumsi ini. Karena besok acara kita (diskusi bersama Epson, red) dimulai pagi. Jangan sampai tidak bisa bangun,” ujarnya berkelakar. (*/dra/bersambung)
Editor : M.Ridwan