Ini bukan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) yang duitnya dari anggaran APBN. Di tengah bisingnya deru mesin dan kepulan debu di Jalan Mahendradatta, Denpasar Barat, tepat di sebelah Pasar Banyu Asri, sebuah ruko sederhana menjadi magnet bagi ratusan orang. Di situ Adalah tempat makan gratis untuk siapa saja: lintas sukua, agama,ras, antar golongan.
LUAR BIASA. Di situ sama sekali tidak ada papan harga. Tidak ada kasir yang menunggu. Di sini, aroma ayam sisir dan sambal ijo, menyengat, semerbak, mengundang rasa lapar siapa saja untuk singgah. Tanpa perlu merogoh kocek sepeser pun.
Rumah Makan Gratis ini bukan sekadar tempat mengisi perut. Sejak dibuka pukul 09.00 hingga 14.00 Wita, tempat ini bertransformasi menjadi titik temu keberagaman.
Tukang ojek yang lelah, sopir truk yang menempuh perjalanan jauh, hingga pemulung dengan peluh di dahi, duduk berdampingan menikmati sepiring nasi hangat.
Investasi Langit
Sosok di balik gerakan ini adalah I Putu Gde Indra Yudha. Bagi pengelola perusahaan manajemen ini, mendirikan rumah makan gratis bukan sekadar menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR). Baginya, ini adalah perjalanan spiritual yang unik.
"Saya lagi kepengen merayu Tuhan saja," selorohnya santai saat ditemui di lokasi, Selasa (17/2/2026).
Kalimat "merayu Tuhan" bukan sekadar kiasan. Sejak 2012, Indra rutin membagikan sembako ke kawasan marjinal seperti TPA Suwung. Namun, di awal tahun 2026, sebuah ide melintas di benaknya: mengapa tidak menyediakan makanan siap saji yang layak setiap hari?
Ia pun mengontrak ruko selama dua tahun ke depan, dengan niat besar untuk memperpanjangnya jika semesta mengizinkan. Ia sedang berinvestasi, bukan pada saham atau properti, melainkan pada kebaikan.
Koki Profesional dan Menu Bintang Lima
Meski gratis, kualitas tidak main-main. Di dapur, empat koki profesional dibantu tiga asisten sibuk meracik bumbu. Menu yang disajikan berganti setiap hari agar warga tidak bosan—mulai dari ayam sisir, telur, pindang sambal ijo, hingga sayur asem yang segar. Kerupuk renyah dan es teh manis selalu siap menemani.
"Semua menu yang disajikan halal bagi siapa pun," tegas Dicky, sang pengelola harian.
Antusiasme warga pun luar biasa. Dari awalnya hanya menyediakan 100 porsi, kini permintaannya melonjak hingga 200-300 porsi per hari.
Menjelang bulan Ramadan, jam operasional pun akan disesuaikan menjadi pukul 18.00 hingga 21.00 Wita untuk melayani mereka yang berbuka puasa.
Kebaikan yang Menular, Berbondong-bondong Menyumbang Bahan Makanan
Dua minggu berjalan, "virus" kebaikan ini mulai menjangkiti warga lainnya. Rumah Makan Gratis ini kini bukan lagi tanggungan satu perusahaan semata.
Warga mampu di Denpasar mulai berbondong-bondong datang, bukan untuk makan, melainkan membawa "bekal" untuk diolah.
"Banyak masyarakat Bali mulai mendonasikan bahan baku—ada beras, telur, daging, hingga sayuran. Hampir setiap hari donasi datang," tambah Dicky dengan nada syukur.
Di ruko kecil di pinggir jalan ini, sekat-sekat perbedaan suku, agama, ras, antargolongan, dan latar belakang sosial luruh di depan piring yang sama.
Di sini, orang-orang tidak hanya pulang dengan perut kenyang, tapi juga dengan keyakinan bahwa di dunia yang keras ini, ketulusan masih punya tempat untuk bertumbuh.
Seni merayu Tuhan ternyata sesederhana itu: dengan memberi tanpa meminta kembali.[*]
Editor : Hari Puspita