Banjir besar yang menimpa Denpasar, Badung, khususnya, dan Bali umumnya, pada Rabu dini hari, 10 September 2025 lalu tak hanya meninggalkan cerita duka akibat meninggalnya 18 orang korban. Air bah itu telah meninggalkan trauma bagi mereka yang mengalaminya termasuk nenek yang satu ini: Halimah.
DI bawah langit mendung yang menyelimuti Kota Denpasar, Rabu (25/2/2026), Halimah,70, hanya bisa terduduk lesu, di tengah dagangannya, aneka jenis rempah dan aneka bumbu dapur.
Baca Juga: UPDATE Musibah Banjir Denpasar: Korban Tewas 18 Orang, 4 Masih Hilang
Di balik meja kayu kios kecilnya berukuran 3x4 meter di lantai dasar Pasar Kumbasari, wanita berusia senja ini menatap kosong ke arah lorong pasar yang sepi.
Hujan yang mengguyur sejak pagi seolah menghanyutkan asa Halimah. Hingga pukul 15.00 Wita, tak satu pun pembeli mampir ke kios rempah dan bumbu tradisional miliknya.
Padahal, di hari cerah, ia biasanya mampu mengantongi omzet Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.
Terhimpit Modal dan Harga yang Terus Melambung
Kondisi ini kian pelik karena harga stok barang dari tengkulak di Surabaya hingga Sumatera mulai merangkak naik akibat cuaca ekstrem yang mengganggu jalur pengiriman.
Meskipun modal membengkak, Halimah tetap nekat berbelanja stok demi menjaga kepercayaan pelanggan setianya.
"Sekarang disyukuri saja. Beberapa hari ini untuk makan saja saya harus ambil dari modal jualan, karena memang tidak ada untung," keluhnya dengan nada getir.
Apalagi, saat ini di era digital, pola jual beli barang tidak seperti dulu lagi. Perdagangan secara online lebih dianggap nyaman bagi generasi era kiwari yang serba memakai gadget ini. Pasar dianggap kuno, jadul, ketinggalan bagi generasi kelahiran selepas tahun 2000-an.
Trauma yang Belum Usai
Bagi Halimah, hujan bukan sekadar penghalang pembeli, melainkan pembawa trauma. Ia masih terbayang ngerinya luapan Tukad Korea beberapa bulan lalu, tepatnya 10 September 2025, yang merendam kiosnya hingga hancur total.
Kenangan pahit itu kembali muncul saat sirine peringatan dini debit air berbunyi pada Selasa (24/2/2026).
"Saya masih trauma. Setiap hujan deras seperti sekarang, saya dan pedagang lain merasa was-was. Takut kejadian kelam itu terulang kembali," pungkasnya.
Meski dirundung rasa khawatir dan kerugian materi, Nenek Imah memilih untuk tidak menyerah. Di usia senjanya, ia tetap teguh berdiri di antara aroma rempah, menunggu cuaca—dan nasibnya—kembali cerah.[*]
Editor : Hari Puspita