DALUNG, radarbali.jawapos.com - Di bawah atap Gedung Serba Guna Bhineka Nusa, Dalung, Kuta Utara Badung seribu anak yatim dan kaum dhuafa tidak sedang merayakan kemegahan, melainkan ketulusan, Minggu (1/3/2026).
Sekat-sekat identitas seolah luruh bersama senyum. Sore itu bukan sekadar tentang berbuka puasa, melainkan perayaan kemanusiaan yang digagas oleh PT Indo Bali Gas Group. Sekitar 1.000 anak yatim piatu lintas iman, kawan-kawan disabilitas, dan kaum dhuafa berkumpul bukan sebagai tamu asing, melainkan sebagai satu keluarga besar.
Hajah Dewi Supriani atau yang akrab disapa Bunda Anik Yahya, saat menyampaikan sekapur sirih mengatakan, moderasi beragama bukanlah teori di atas kertas, melainkan aksi di atas meja makan.
Dengan menghadirkan anak-anak dari Panti Asuhanumat Islam, Kristen Pala Sari Jembrana hingga Panti Asuhan Hindu Arta Kara Kumara, Singaraja dan nyaris dari seluruh Bali hadir mengirimkan pesan kuat, bahwa lapar tidak mengenal agama, dan kasih sayang tidak butuh penerjemah.
"Ramadan adalah momentum semesta untuk berbagi. Sejak tahun 2006, kami memilih untuk tidak melihat warna baju atau cara mereka berdoa, tapi melihat binar mata mereka saat merasa bahagia," tutur Bunda Anik dengan lembut, didampingi H. Yahya, dipanggung utama.
Suasana formal dibuang jauh-jauh, digantikan dengan keriuhan yang menyentuh hati dari semua latar belakang agama.
Bukan hanya itu, sebanyak 35 pelaku UMKM lokal menyajikan hidangan dengan cinta—mulai dari bakso, soto daging hingga tipat belayag—memastikan bahwa berkah Ramadan juga mengalir ke kantong-kantong pedagang kecil.
Anak-anak balita tertawa di atas odong-odong, sementara yang lain memeluk erat bingkisan berisi payung dan topi—simbol perlindungan dan perhatian kecil yang berarti besar bagi mereka yang jarang merasakannya.
”Kami hanya ingin berbagi bahagia tanpa melihat sekat iman dan keyakinan kepada mereka yang memang layak kita santuni,” ungkap Anik Yahya.
Senada, sang suami Yahya Ali Al Zubaidi (Baba) melengkapi narasi ini dengan pengingat yang menyentuh tentang kerendahan hati.
Haji Yahya menegaskan bahwa apa yang mereka miliki hanyalah titipan yang "salah alamat" jika tidak sampai ke tangan mereka yang membutuhkan.
”Berdasar ajaran agama, Tuhan itu hadir justru saat kita berbagi dengan mereka yang membutuhkan,” ungkap Haji Yahya.
Kepedulian ini pun tidak berhenti di sini. Pada 7 Maret mendatang, mereka akan melangkah ke balik jeruji Lapas Perempuan Kelas II Kerobokan. Misinya sederhana namun dalam mengetuk pintu hati warga binaan dan mengingatkan bahwa setiap manusia, seburuk apa pun masa lalunya, berhak atas pelukan hangat dan kesempatan kedua.
Melalui langkah nyata ini, PT Indo Bali Gas Group bukan hanya sekadar perusahaan, melainkan penjaga nyala api toleransi di Pulau Dewata.
Mereka membuktikan bahwa di Bali, perbedaan bukanlah pemisah, melainkan pengikat silaturahmi yang membuat wajah kemanusiaan kita menjadi jauh lebih indah.
Salah seorang pendamping rombingan dari Jembrana, Doanatus Openg mengaku datang jauh bersama anak yatim lintas agama untuk merasakan keberasamaan.
"Meski ada anak yangf mabuk kendaraan, namun kami senang dan bangga merasakan kebersamaan di bulan ramadan ini," ungkapnya. ***
Editor : M.Ridwan