Aspal di kawasan pelabuhan yang biasanya lengang mendadak berubah menjadi lautan besi. Selasa (17/3/2026) dini hari, ribuan lampu depan sepeda motor mulai menembus gelapnya malam, membentuk barisan panjang yang mengular hingga melampaui tenda-tenda peneduh di Pelabuhan Gilimanuk.Tujuan mereka satu : menuju kampung halaman.
MEREKA datang berduyun-duyun bagaikan ombak. Setelah sempat mereda pada Senin sore (16/3/2026), gelombang kedua arus mudik ini datang seperti air bah.
Sebagian besar adalah perantau yang tak sabar menjejakkan kaki di tanah Jawa. Meski raga didera lelah, bagi mereka, motor bukan sekadar kendaraan, melainkan satu-satunya jembatan menuju pelukan keluarga di kampung halaman.
Di tengah bisingnya deru mesin dan kepulan asap knalpot, sebuah pemandangan menyayat hati terlihat di antara antrean kendaraan itu.
Wahidin, misalnya, dia adalah salah satu pemudik tujuan Banyuwangi. Dia tampak bersusah payah menjaga keseimbangan motornya.
Tak tanggung-tanggung, kendaraan roda dua itu ia tumpangi bersama empat anggota keluarga lainnya.
Satu anak kecil duduk tegap di bagian depan, sementara sang istri menggendong dua anak lainnya yang berhimpitan di jok belakang.
“Cuma motor ini satu-satunya yang kami punya, Pak,” ujar Wahidin lirih.
Ia adalah potret nyata pemudik yang nekat bertaruh keselamatan demi efisiensi biaya dan waktu. Tak hanya Wahidin, banyak pula ibu hamil dengan usia kandungan tua dan balita yang harus berjuang melawan sesak di tengah antrean padat.
Siaga di Garis Depan
Kelelahan memang menjadi musuh utama. Di sudut pelabuhan, posko kesehatan tampak sibuk. Beberapa pemudik harus dibantu petugas karena mengeluhkan pusing hingga sesak napas.
“Kelelahan, Pak,” ucap singkat seorang petugas medis sambil memapah seorang pengendara yang tampak pucat ke dalam ruang perawatan.
Petugas tak henti-hentinya mengimbau agar para ibu hamil dan orang tua yang membawa balita tidak memaksakan diri dan segera beristirahat di posko jika kondisi fisik menurun.
Naik Motor Memang Lebih Cepat, namun Berisiko
Menariknya, meski jumlah sepeda motor mendominasi, mereka justru lebih "lincah" menembus gerbang kapal dibanding kendaraan roda empat. Wahidin dan ribuan pengendara lainnya rata-rata hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk masuk ke dalam kapal.
“Pakai motor lebih cepat, tidak kena macet lama,” tutur Tohari, pemudik asal Kalibaru, yang tampak lega setelah motornya mendapat posisi di dalam dek kapal.
Berdasarkan data Pelabuhan Gilimanuk periode 12–16 Maret, sepeda motor memang masih menjadi "raja" di jalur penyeberangan. Dari total 94.621 kendaraan yang keluar Bali, lebih dari separuhnya—yakni 59.775 unit—adalah sepeda motor.
Secara total, sebanyak 305.905 orang telah menyeberang kembali ke Jawa dalam periode tersebut.
Menjelang siang, keriuhan itu perlahan sirna. Tenda-tenda yang tadi penuh sesak mulai melompong. Ribuan roda dua itu kini tengah membelah Selat Bali, membawa ribuan harapan untuk tiba di rumah sebelum hari kemenangan tiba. [*]
Editor : Hari Puspita