Bocah nahas, 4,5 tahun, ini sempat telantar di sebuah minimarket sebelah barat kawasan Bali Safari, Gianyar, pada Rabu (25/3/2026) siang. Beruntung, sejumlah warga dan polisi mempertemukan lagi dengan orang tuanya lantaran curiga ada anak kecil tanpa tanpa pengasuh orang dewasa.
PERLAHAN, matahari tepat di ubun-ubun saat kegaduhan sunyi melanda sebuah minimarket di sebelah barat kawasan Bali Safari, Rabu (25/3/2026) siang.
Baca Juga: Terharu, Ini Ungkapan Si Anak Hilang Putu Yudiantara Pulang Kampung Bela Bali United Basketball
Di antara hilir mudik pembeli dan deru kendaraan di jalur utama, seorang bocah laki-laki berdiri mematung. Namanya Pradeva, usianya baru empat setengah tahun, namun siang itu ia harus berhadapan dengan labirin kebingungan yang teramat besar bagi ukuran tubuhnya yang mungil.
Baca Juga: Ibu dan Anak 9 Tahun Hilang Terseret Banjir di Tukad Buleleng
Mengenakan kaos berwarna pink muda dengan sablon nama "R-DEVA" dan nomor punggung 11, bocah berkulit sawo matang itu tampak kontras di tengah keramaian. Di pergelangan tangan kanannya, melingkar seutas benang panca datu—simbol perlindungan yang seolah menjadi saksi bisu betapa rentannya ia saat itu.
Sekitar pukul 14.25 Wita, naluri seorang pegawai minimarket terusik. Ia melihat Pradeva sendirian, tanpa tangan dewasa yang menggandengnya.
Saat didekati, sang bocah hanya bisa menatap dengan mata yang sedikit sipit, menyimpan rahasia tentang alamat rumah yang gagal ia terjemahkan menjadi kata-kata.
Dugaan segera menyeruak: Pradeva tertinggal oleh rombongannya di area parkir yang luas sebelum sempat melompat naik ke kendaraan. Dalam hitungan menit, koordinasi cepat antara warga dan petugas kepolisian membawa Pradeva ke tempat yang lebih teduh: Pos Pelayanan (Pos Yan) Masceti.
Di sana, di bawah atap pos polisi, waktu terasa berjalan melambat. Di sisi lain, kepanikan luar biasa rupanya sedang melanda sebuah keluarga yang baru menyadari ada kursi kosong di kendaraan mereka saat sudah mencapai Pasar Galiran, Klungkung. Sebuah kekhilafan yang nyaris berbuah petaka.
Dua jam berlalu penuh kecemasan. Pukul 16.30 Wita, deru kendaraan yang mendekat ke Pos Yan Masceti membawa kelegaan yang tak terlukiskan.
Orang tua Pradeva tiba dengan napas memburu. Ketegangan yang membeku sejak siang itu seketika cair saat sang ayah melihat putranya dalam keadaan selamat.
"Terima kasih banyak kepada bapak ibu polisi dan masyarakat yang sudah jaga anak tyang," ucap sang ayah dengan suara yang bergetar. Kalimatnya terbata, tertutup oleh rasa syukur yang meluap. "Saya tidak tahu harus bicara apa. Karena panik, anak sudah dijaga. Terima kasih."
Kasi Humas Polres Gianyar, Gusti Ngurah Suardita, membenarkan drama singkat di pinggir jalur Masceti tersebut. Baginya, kembalinya Pradeva ke pelukan keluarga adalah buah manis dari kepedulian masyarakat yang tidak memilih untuk abai.
"Kami mengapresiasi kesigapan warga. Kejadian ini harus menjadi pelajaran berharga bagi semua orang tua untuk tidak sedetik pun melepaskan pengawasan terhadap buah hati di tempat umum," tegas Gusti Ngurah Suardita.
Sore itu, Pradeva pulang. Kaus pink nomor 11 dan gelang panca datu itu akhirnya kembali ke tempat yang seharusnya: di dalam dekapan hangat keluarganya.[*]
Editor : Hari Puspita