Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah Srikandi Buleleng di Asian Beach Games Sanya 2026, Tiongkok: Emas, Rekor Dunia, dan "Tembok Harapan”

Andre Sulla • Sabtu, 2 Mei 2026 | 07:11 WIB
YANG TERBAIK : Dua atlet panjat tebing asal Buleleng, Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Kadek Adi Asih, berdiri di podium tertinggi usai meraih medali emas nomor speed relay putri pada Asian Beach Games Sanya 2026. (foto: KONI Buleleng)
YANG TERBAIK : Dua atlet panjat tebing asal Buleleng, Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Kadek Adi Asih, berdiri di podium tertinggi usai meraih medali emas nomor speed relay putri pada Asian Beach Games Sanya 2026. (foto: KONI Buleleng)

Ini prestasi membanggakan yang kembali ditorehkan atlet Bali di kancah dunia. Dua Srikandi panjat tebing asal Buleleng, Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Kadek Adi Asih, sukses mempersembahkan medali emas pada nomor speed relay putri di ajang Asian Beach Games Sanya 2026, Tiongkok.

DI bawah langit Sanya, China, dua perempuan asal Bumi Panji Sakti berdiri tegak di podium tertinggi.

Baca Juga: Hujan Terus Mengguyur Tabanan, Stamina Pekerja Proyek Pemasangan Panjat Tebing Bikin Khawatir

Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Kadek Adi Asih bukan sekadar membawa pulang medali emas nomor speed relay putri Asian Beach Games 2026; mereka membawa pulang sebuah sejarah baru bagi dunia panjat tebing.

Baca Juga: Kejurnas Panjat Tebing XIX 2025, Raih Satu Emas, Desak Rita Jadi Penyelamat

Langkah mereka di lintasan vertikal begitu cepat, hingga mata penonton nyaris tak sanggup mengikuti.

Momen paling mendebarkan justru tercipta sebelum partai final. Pada babak semifinal, saat berhadapan dengan raksasa tuan rumah, China, Desak Made dan Kadek Adi Asih seolah "terbang".

Mereka mencatatkan waktu fantastis: 13,174 detik. Angka ini bukan sekadar catatan waktu, melainkan rekor dunia sekaligus rekor Asia yang baru saja mereka pecahkan.

Memasuki babak final melawan Korea Selatan, ketenangan menjadi kunci. Desak Made Rita membuka perlombaan dengan presisi tinggi. Tekanan yang diberikan Desak membuat lawannya, Jeong Jimin, terpeleset.

Momentum emas itu tak disia-siakan. Kadek Adi Asih yang menjadi pelari kedua tampil dominan melawan Sung Hanareum. Dengan total waktu 13,76 detik, duo Buleleng ini memastikan lagu Indonesia Raya berkumandang, jauh meninggalkan Korea Selatan yang terpaku di angka 16,50 detik.

Prestasi Dunia, Fasilitas "Seadanya"

Di balik gemerlap medali emas di China, tersimpan realita kontras di tanah kelahiran mereka. Ketua Umum KONI Buleleng, Gede Supriatna, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya, sekaligus menyelipkan kegelisahan terkait sarana prasarana (sarpras) di daerah.

“Ini bukan hanya kebanggaan Buleleng, tetapi Indonesia. Prestasi ini bukti pembinaan daerah bisa bicara di level dunia,” ujar Supriatna, Kamis (30/4/2026).

Namun, ia mengungkapkan bahwa perjuangan mencetak atlet kelas dunia ini masih terganjal fasilitas. Sejak tahun 2023, KONI Buleleng telah mengajukan permohonan bantuan fasilitas panjat tebing lengkap senilai Rp7 miliar ke pemerintah pusat dan FPTI.

Hingga saat ini, bantuan yang turun baru sebatas alat pendukung seperti harness, helm, dan carabiner. "Kami berharap dengan prestasi (rekor dunia) ini, pembangunan sarpras di Buleleng bisa segera direalisasikan," tegasnya.

Komitmen Bumi Panji Sakti

Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, turut memberikan apresiasi tinggi atas capaian luar biasa ini. Baginya, duet Desak Made dan Kadek Adi Asih adalah bukti sahih bahwa talenta lokal Buleleng memiliki mentalitas global.

Pemerintah daerah berjanji akan memperkuat sinergi dengan KONI untuk memastikan pembinaan tetap berjalan meski dengan keterbatasan yang ada.

Kini, publik menanti apakah rekor dunia ini akan menjadi "ketukan pintu" yang cukup keras bagi pemerintah pusat untuk segera membangun dinding panjat tebing standar internasional di Buleleng.

Sebab, dari tembok-tembok latihan yang terbatas itulah, Srikandi Buleleng telah membuktikan bahwa mereka mampu menaklukkan dunia. [*]

Editor : Hari Puspita
#rekor asia #atlet buleleng #panjat tebing #koni buleleng #Rekor Dunia