Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tergerus Zaman, Dokar Tradisional Jembrana Nyaris Punah, Tersisa Enam Unit, Kusir Renta Hanya Bisa Menanti Keajaiban Pesanan

Muhammad Basir • Senin, 25 Mei 2026 | 10:46 WIB
DOKAR DAN PAK KUSIRNYA : Salah satu dokar yang bertahan depan Pasar Umum Negara, Jembrana, seakan hidup segan mati pun enggan. (M.Basir/Radar Bali)
DOKAR DAN PAK KUSIRNYA : Salah satu dokar yang bertahan depan Pasar Umum Negara, Jembrana, seakan hidup segan mati pun enggan. (M.Basir/Radar Bali)

Pemandangan wajah getir tampak di jantung perkotaan Gumi Makepung. Tepatnya di depan Pasar Umum Negara. Sebuah dokar bersama Pak Kusir yang sama-sama menua tampak ngetem lesu di pinggir jalan. Menunggu rezeki dalam ketidakpastian.

SEEKOR  kuda cokelat berdiri tertunduk lunglai di bawah sengatan terik matahari yang membakar kulit.

Baca Juga: Cara Unik Kampanye Disiplin Berlalulintas di Klungkung: Polisi Ajak Bondres Naik Dokar "Sapu Bersih" Parkir Liar di Jalan Diponegoro

Di sudut trotoar, sang kusir memilih duduk bersila, tatapannya kosong menembus hilir mudik kendaraan bermotor, berharap ada keajaiban penumpang yang sudi menyapa jasanya.

Baca Juga: Dokar Wisata Kota Denpasar Dipastikan Tetap Gratis hingga 2025, Ini Penjelasan Kepala Dinas Pariwisata

Roda zaman seakan tanpa ampun menggilas. Begitulah potret buram keseharian para perawat transportasi tradisional yang kini kian terpojok dan terasing di tanah sendiri.

Di tengah gemerlap pembangunan kota yang makin modern dan tertata rapi, eksistensi dokar justru menghadirkan ironi yang kontras. Tak ada lagi keriuhan penumpang yang naik-turun. Sepi dan sunyi menjadi teman setia para kusir.

Padahal, dokar bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah simbol moda transportasi ramah lingkungan sekaligus benteng warisan budaya lokal yang sarat nilai historis.

Sayangnya, selain harus tiarap melawan gempuran kendaraan modern dan ojek daring, nasib mereka kini digantungkan pada faktor cuaca serta pasang surut kunjungan wisatawan. Jika kota sedang sepi, pasrah menunggu adalah satu-satunya pilihan rasional.

Kondisi kritis ini diakui oleh Gusti Putu Dita, salah satu kusir kawakan yang masih tersisa. Pria senja berusia 80 tahun asal Banjar Mendoyo Dauh Tukad ini mengungkapkan, saat ini jumlah dokar yang masih bertahan di Jembrana bisa dihitung dengan jari.

“Sekarang totalnya tinggal enam dokar saja yang tersisa. Itu pun sudah banyak yang jarang keluar ke jalan. Selain karena faktor kesehatan para kusir yang rata-rata sudah sepuh dan menurun, penumpangnya memang sudah tidak ada,” tutur Gusti Putu Dita dengan suara lirih.

Akibat sepinya peminat, sebagian besar kusir kini memilih mogok mangkal harian. Mereka memilih mengandalkan sistem "bola jemput" alias hanya mengeluarkan dokar jika ada pesanan khusus (charter) dari warga atau kedatangan wisatawan.

“Sekarang jalannya kalau ada yang sewa khusus saja. Misalnya ada yang mau keliling kota, atau untuk pelengkap acara tradisi seperti iring-iringan khitanan dan pernikahan. Kalau tidak ada pesanan ya dokar dikandangkan saja di rumah,” keluhnya.

Kondisi nestapa ini bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan masa kejayaannya beberapa dekade silam, di mana puluhan dokar merajai jalanan protokol Jembrana sebagai angkutan primadona masyarakat.

Kini, kemudahan akses kredit kendaraan bermotor membuat posisi dokar terdegradasi sekadar jadi pajangan atau pelengkap ritual adat semata.

Kendati berada di ambang kepunahan, Gusti Putu Dita menaruh harapan besar agar pemerintah daerah maupun pemerhati budaya tidak menutup mata.

Perlu ada intervensi nyata agar kepunahan moda transportasi legendaris ini bisa dihambat. 

“Dokar ini bukan cuma urusan isi perut kami selaku kusir, tapi ini sejarah dan kearifan lokal Jembrana. Kalau tidak dirawat dan dijaga bersama, sebentar lagi dokar di sini pasti benar-benar hilang ditelan bumi,” pungkas sang kusir tua. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#Dokar #angkutan tradisional #kusir #jembrana #Negara