Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

​Menyelami Dunia Tanpa Batas Visual Lewat Film, Dokumenter 'Imaji', Berkarya dengan Mata Hati

Ni Kadek Novi Febriani • Minggu, 31 Mei 2026 | 20:34 WIB
MENGGUGAH: Film dokumenter berjudul Imaji, Yayasan Pendidikan Dria Raba Bali sukses memutar dan menyita perhatian penontin di STKOM Bali, Sabtu malam 30 Mei 2026. (NI KADEK NOVI FEBRIANI/radarbali.id)
MENGGUGAH: Film dokumenter berjudul Imaji, Yayasan Pendidikan Dria Raba Bali sukses memutar dan menyita perhatian penontin di STKOM Bali, Sabtu malam 30 Mei 2026. (NI KADEK NOVI FEBRIANI/radarbali.id)

 

​Bagaimana sebuah imajinasi terbentuk di kepala mereka yang tidak bisa melihat dunia? Lewat film dokumenter berjudul Imaji, Yayasan Pendidikan Dria Raba sukses mengetuk hati penontonnya, sekaligus menunjukkan keteguhan dan bagaimana berdayanya anak-anak difabel netra.

 

Ni Kadek Novi Febriani

 

SUASANA malam di kampus Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali pada Sabtu (30/5/2026) sangat hening. Sebelum layar memutarkan film, pembawa acara Moch Satrio Welang meminta seluruh penonton untuk menutup mata mereka dengan kain hitam.

Penonton diajak menyelami dunia sunyi lewat petikan musikalisasi puisi yang dibawakan dengan syahdu oleh anak-anak Yayasan Pendidikan Dria Raba dan Teater Biner.

Tujuanya agar penonton bisa lebih saksama mendengarkan, sebelum mereka benar-benar menonton karya tersebut.

​Tria Hikmah Fratiwi, sang penulis naskah menceritakan bahwa ide awal film ini sebenarnya berangkat dari perbedaan kata yang sering digunakan untuk menyebut orang yang memiliki keterbatasan fisik. Yaitu antara kata 'disabilitas' dan 'difabel'.

Sebab, pemilihan kata atau diksi menunjukkan stigma diskriminatif.

 Awalan 'dis' bermakna kondisi keterbatasan, sedangkan kata 'difabel' (different ability) memiliki arti kemampuan yang berbeda.

​"Apa yang mereka lakukan, kami rangkai menjadi benang merah. Ide cerita ini dibentuk dari pertanyaan; dis atau dif? Saya mencari jurnal ilmiah untuk menemukan jawabannya. Kalau 'dis' itu keterbatasan, nah kalau 'difabel' maknanya lebih positif. Untuk mencari informasi yang akurat, kami menggandeng para ahli untuk menjawabnya," ujar Tria saat ditemui sebelum pemutaran film.

​Sutradara film Imaji, Heri Windi Anggara menyebutkan bahwa pemantik utama film menceritakan bagaimana anak difabel netra.

Jika anak dengan mata normal bisa langsung tahu bentuk benda dari apa yang mereka lihat, lantas bagaimana dengan mereka yang netra? Bagaimana mereka membayangkan sebuah bentuk?

​"Teman-teman difabel netra melihat dengan cara lain. Mereka memiliki keunikan tersendiri," kata Heri.

​Dari puluhan anak yang ada di Yayasan Dria Raba, film dokumenter ini memilih fokus pada sosok Lia, seorang anak yang sangat jago membuat puisi. Lia menulis bait-bait puisi indahnya itu menggunakan huruf Braille.

​“Film ini bukan tentang apa yang tidak bisa mereka lihat, melainkan tentang bagaimana mereka membangun dunia di dalam pikiran mereka,” tegas Heri.

Dalam proses produksinya, Imaji mengikuti perjalanan sejumlah anak difabel netra dari berbagai daerah untuk mengeksplorasi pengalaman sensorik dan imajinatif mereka.

Narasi film ini murni dibangun dari keseharian anak-anak itu sendiri, sehingga suara dan cerita mereka menjadi pusat utamanya.

Pendekatan ini kemudian diperkuat dengan pendampingan dari psikolog dan dokter spesialis neurologi. Kehadiran para ahli ini bukan untuk mendominasi cerita, melainkan membantu menjelaskan dari sudut pandang ilmu pengetahuan tentang bagaimana otak manusia tetap bisa membentuk gambaran, mimpi, dan imajinasi meski tanpa pengalaman visual.

​Menurut pihak Yayasan Pendidikan Dria Raba, film ini lahir dari keinginan untuk membuka ruang dialog yang lebih luas di masyarakat mengenai difabel.

Mereka ingin menantang cara pandang publik yang selama ini sering kali melihat kelompok difabel hanya dari kacamata kekurangan semata.

​Dalam proposal produksinya, film dokumenter ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik pentingnya inklusivitas, sekaligus menyediakan ruang bagi penyandang difabel netra untuk menyampaikan pengalaman dan perspektif mereka sendiri.

​Tema yang diangkat terasa semakin relevan di tengah upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif saat ini.

Di saat sebagian besar pengalaman manusia didominasi oleh budaya visual di mana apa-apa harus dilihat Imaji mengingatkan kita bahwa ada banyak cara lain untuk mengenali, memahami, dan merasakan kehidupan.

​Melalui Imaji, penonton tidak hanya diajak menonton sebuah karya lewat mata, tetapi juga belajar mendengar dengan lebih saksama.

Sebab, mungkin saja ada bagian dari dunia ini yang selama ini luput dari pandangan kita, justru karena kita terlalu bergantung pada mata.***

Editor : M.Ridwan
#imaji #satrio welang #film dokumenter #difabel