Gedung eks bioskop Tabanan Theatre pada Senin, 22 Juni 2026, terasa syahdu. Penonton seperti diajak untuk mengingat kembali kenangan masa lalu saat masa kejayaan bioskop dan layar tancap. Bangunan gedung eks bioskop yang penuh tulisan di dinding tembok dengan suasana sunyi, gelap, dan terkesan angker di malam hari, justru dipadati oleh puluhan warga.
INI memang suasana yang benar-benar khas. Seperti Kembali kemesin waktu. Mereka duduk rapi menonton sebuah film jadul, kuno, untuk mengenang atau nostalgia ke era 1990-an.
Puluhan warga itu ternyata menggelar kegiatan layar tancap nonton bareng yang digagas oleh komunitas seni Tabanan, PALKA, dan Asa Films. Nonton layar tancap era 1990-an itu merupakan kali kedua yang pernah digelar.
Saat acara digelar, meskipun layar yang dibentangkan relatif kecil berukuran dua kali tiga meter, antusiasme penonton tidak surut. Film yang diputar pun sangat ikonik pada masanya, yakni Jaka Swara produksi 1990 yang dibintangi Rhoma Irama dan Camelia Malik.
Salah seorang penonton yang larut dalam suasana nostalgia malam itu adalah Wati, 58, seorang pedagang pasar tradisional Tabanan. Perempuan asal Lumajang ini mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan atmosfer gedung tersebut karena ia mulai merintis usaha di sana tepat setelah menikah.
“Saya nikah dengan Bapak langsung pergi ke Bali,” kenang perempuan yang kini tinggal di Sanggulan, Kediri tersebut di sela-sela pemutaran film jadul.
Bagi Wati, pementasan film jadul di lokasi tersebut seolah memutar kembali memori masa mudanya saat kompleks pertokoan dan bioskop itu masih menjadi primadona masyarakat. Suasana ramai yang tercipta malam itu menjadi penawar rindu akan masa-masa emas pasar yang kini cenderung sepi.
“Jadi ingat-ingat zaman dulu. Ada rasa kangen. Masih ingat ramai-ramainya dulu,” tutur Wati. Ia mengaku sangat merindukan suasana keramaian Galungan dan Kuningan di masa lalu yang kini terasa sangat kontras dengan kondisi saat ini.
Kemunculan kembali layar tancap ini terbukti tidak hanya berhasil mengusir kesan gelap dan angker dari eks gedung teater tersebut, namun juga berhasil merajut kembali memori kolektif warga yang sempat terputus.
Sementara itu, Wayan Dwitanaya dari PALKA menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi bersama Asa Films untuk menghidupkan kembali ruang publik di Tabanan. Pemilihan eks bioskop Tabanan Theatre dilakukan karena gedung ini memiliki nilai historis yang panjang sebagai pusat hiburan dan tempat berkumpul anak muda pada era 1990-an.
“Ini sebetulnya pemutaran film yang kedua. Yang pertama itu pada Februari 2026 kemarin. Waktu itu kami putar film Lupus,” ujar Dwitanaya.
Kehadiran para pedagang dari Pasar Sari Harapan yang berada di bawah gedung tersebut menjadi catatan tersendiri bagi penyelenggara, bahkan menuai apresiasi. Baginya, para pedagang itu merupakan saksi hidup yang merasakan langsung masa kejayaan gedung tersebut puluhan tahun silam sebelum akhirnya terbengkalai.
“Ibu-ibu pedagang itu, mereka yang pernah merasakan masa lalu dari gedung ini. Kalau cengengnya, ya mungkin ini nostalgia,” pungkasnya.
Pihaknya pun berencana untuk terus mengembangkan kegiatan ini tidak sekadar sebagai hiburan, namun juga menjadi ruang diskusi yang bermanfaat bagi masyarakat Tabanan. “Sementara ini baru entertainment ya. Kami baru akan bikin kegiatan yang sama dua bulan lagi,” imbuhnya. [*]
Editor : Hari Puspita