Kisah Inspiratif Pengusaha Asal Buleleng: Dari Miskin Hingga Omzet Toko Ratusan Juta per Bulan

Rosihan Anwar • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 13:23 WIB
Before After: Kadek Krisna Dewa Anggana
Before After: Kadek Krisna Dewa Anggana

DI sudut salah satu desa di kabupaten Buleleng, seorang anak kecil terbangun. Bukan oleh hangatnya sinar matahari, melainkan oleh teriakan dan pertengkaran kedua orang tuanya. 

Demikian kira-kira gambaran keseharian masa kecil yang dilalui oleh Kadek Krisna Dewa Anggana. Seorang pengusaha muda yang kini memiliki sejumlah brand aksesoris perhiasan di berbagai platform e-commerce dan toko offline di kota Denpasar.

Krisna, begitu sapaan akrabnya, adalah bukti bahwa kemiskinan bukanlah takdir. Dari seorang anak yang tumbuh dalam keluarga dengan ayah gangguan jiwa dan ibu yang berjuang sebagai buruh cuci serta penjual sayur, ia kini tumbuh sebagai pengusaha yang juga berhasil menamatkan pendidikan S1 dan tengah menempuh studi S2 di Universitas Negeri Malang.

Masa Kecil yang Penuh Luka

Krisna lahir dan besar di desa Gesing, sebuah desa terpencil di Kabupaten Buleleng yang berjarak 1,5 jam perjalanan dari Kota Singaraja. 

Di desa ini, ia menyaksikan langsung bagaimana ayahnya, seorang yang mengalami gangguan kejiwaan, kerap melakukan kekerasan terhadap ibu dan kakaknya.

"Hampir setiap hari saya merasa hidup tidak tenang. Dalam satu minggu, pasti ada pertengkaran hebat antara ayah dan ibu," kenang Krisna.

Ia masih ingat betul momen paling kelam, ketika ibunya dicekik dan diangkat hingga kedua kakinya tak lagi menyentuh lantai. Pernah juga ibunya disundut rokok di leher, dipukul, dan ditelanjangi paksa. Semua itu dilakukan di depan mata anak-anaknya.

Sementara itu, sang ibu bekerja keras dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Seperti berjualan sayur, tukang cuci, hingga pembantu rumah tangga. Namun, semua itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Keluarga saya adalah yang termiskin di desa. Kami tidak punya motor. Sementara hampir semua tetangga saat itu sudah punya. Makan daging atau ayam pun jarang sekali kami rasakan," ujarnya.

Di sekolah, nasibnya tak lebih baik. Nilai akademiknya berada di urutan paling bawah. Bagaimana tidak, pikirannya tak pernah tenang. 

Di sekolah, ia dihantui kekhawatiran akan pertengkaran yang mungkin terjadi saat pulang. Sementara sesampainya di rumah, ia sering mendapati ibunya sudah menangis atau terbaring lemas setelah dipukul sang ayah.

"Bagaimana mungkin seorang anak bisa belajar dengan tenang, ketika setiap detik dipenuhi kekhawatiran akan kekerasan yang mungkin terjadi lagi?," tanyanya retoris.

Peningkatan Kemampuan Akademik dan Menemukan Titik Balik

Memasuki kelas 6 SD, Krisna bertemu seorang guru yang tegas sekaligus mampu mendorongnya untuk belajar lebih serius. 

Setiap sebelum pelajaran dimulai, guru tersebut kerap menanyakan materi yang akan dipelajari di hari itu. 

Bagi Krisna, kebiasaan itu justru menjadi pemicu untuk rajin belajar pada malam sebelumnya. Ia mulai rajin membaca, mengulang materi, dan berusaha memahami apa yang akan ditanyakan keesokan hari.

Dengan demikian, ia merasa senang karena selalu dipuji oleh gurunya ketika aktif menjawab pertanyaan yang diberikan.

Ia menjadi salah satu siswa yang aktif di kelas dan beberapa kali dipercaya membantu menjelaskan soal kepada teman-temannya.

Menjelang ujian nasional, beberapa kali ia bahkan mampu memperoleh nilai tertinggi di kelas untuk beberapa mata pelajaran ketika try out dan ujian sekolah. 

Pengalaman tersebut menjadi salah satu pelajaran penting yang terus dibawanya hingga dewasa. Bahwa seseorang tidak selalu harus menjadi yang paling pintar sejak awal untuk dapat berkembang.

Memasuki SMP, Krisna tidak hanya belajar di sekolah. Untuk membantu kondisi ekonomi keluarga, ia mulai berjualan jajan yang dibuat oleh ibunya di sekitar rumah dan ke panti jompo.

Walaupun dengan beberapa kesibukan di rumah, ia tetap mempertahankan prestasi akademiknya dan aktif di kegiatan sekolah. 

Ia pernah menjadi ketua kelas, pengurus OSIS, aktif dalam berbagai lomba pramuka, serta pernah mewakili sekolah untuk lomba cerdas cermat agama hindu.

Krisna juga sering mendapatkan juara 1 dan 2 di kelas serta memperoleh nilai ujian nasional tertinggi di kelas saat itu.

Namun, di balik berbagai aktivitas tersebut, rasa malu akibat kondisi ekonomi tetap menjadi bagian dari kehidupannya.

Ia sering dipanggil karena telat bayar buku LKS dan sering dihukum karena kaos kaki sering melorot. Bagi Krisna, pengalaman itu kemudian menjadi salah satu alasan mengapa ia memiliki keinginan kuat untuk mengubah kehidupannya.

Titik balik terjadi ketika Krisna lulus SMP dan diterima di SMKN Bali Mandara. Sebuah sekolah berasrama yang didirikan khusus bagi anak-anak kurang mampu namun berpotensi untuk maju. Sekolah inilah yang kemudian mengubah banyak hidupnya.

Di sana, ia mendapatkan akses pendidikan gratis, lingkungan yang suportif, dan guru-guru yang membentuk karakternya.

Namun perjalanan tak mudah. Kehidupan asrama dengan disiplin semi-militer memaksanya beradaptasi dari bangun pukul 04.45 pagi hingga tidur pukul 22.00 malam.

Awalnya, ia justru menjadi salah satu siswa dengan nilai akademik terendah karena sering mengantuk di kelas. Namun ia tak menyerah. Ia memaksa diri untuk terus membaca meskipun mengantuk, dan belajar setiap malam untuk memahami materi keesokan harinya.

Di kelas 11, ia mulai berani tampil di depan umum dengan mengikuti berbagai lomba tingkat provinsi, diantaranya lomba pidato bahasa Indonesia, pidato bahasa Inggris, dharma wacana, hingga menyanyi solo.

Hampir semua berakhir tanpa juara. Namun baginya, kegagalan itu justru menjadi pelajaran berharga tentang keberanian dan kegigihan.

"Saya memang hampir tidak pernah mendapatkan juara dari lomba-lomba yang saya ikuti. Tetapi saya mendapatkan latihan mental dan keberanian. Saya belajar bahwa kalah bukan berarti usaha kita sia-sia," tuturnya.

Ia juga dipercaya menjadi pengurus OSIS bidang Bahasa Inggris yang bertugas memandu morning speech di hadapan seluruh siswa setiap pagi.

Dengan ketekunannya, saat ujian nasional ia masuk dalam lima besar dalam urutan nilai tertinggi di kelas saat Ujian Nasional.

"Guru-guru di sana menjadi role model bagi saya. Mereka bukan hanya mengajarkan saya pelajaran di kelas, tetapi juga bagaimana memandang kehidupan, menganalisis masalah, dan mencari jalan keluarnya," ujarnya.

Merantau dan Jatuh Bangun Membangun Usaha

Lulus SMK, Krisna memilih bekerja di perusahaan kelapa sawit di Sumatera Selatan. Ia menjalani kerja-kerja kasar seperti menanam dan memanen sawit sebelum ditempatkan sebagai staf administrasi di sebuah yayasan pendidikan.

Kehidupan ekonominya saat itu kembali penuh tantangan. Gaji pertamanya hampir seluruhnya dikirim untuk kebutuhan keluarga.

Uang yang tersisa untuk makan selama sebulan sebesar Rp800.000 bahkan hilang dicuri. Ia menjual satu-satunya handphone yang dimilikinya untuk bertahan hidup.

"Saya makan nasi hanya sekali sehari. Saya tidak punya HP selama lebih dari satu bulan. Untuk menghubungi keluarga, saya pinjam HP teman," kenangnya.

Tahun pertama bekerja, alih-alih memiliki tabungan, Krisna justru memiliki banyak hutang. Saat itu kondisi kesehatan ayahnya semakin memburuk sehingga ia harus beberapa kali pulang-pergi Sumatera Selatan – Bali untuk mendampingi ayahnya di rumah sakit. 

Beberapa bulan setelahnya ayahnya kemudian meninggal dunia. Ia memutuskan untuk berhenti bekerja di Sumatera dan pulang ke Bali setelah melunasi beberapa utang.

Sekembalinya ke Bali di Tahun 2020, ia mencoba berbagai usaha. Ia pernah berjualan masker dan face shield ketika pandemi COVID-19, berjualan cabai dan rempah-rempah, hingga menjual tas dan pakaian melalui marketplace facebook.

Tidak semuanya berhasil. Namun, pengalaman tersebut membentuk satu kebiasaan penting, yaitu terus mencoba dan belajar dari kegagalan.

Kemudian kesempatan besar datang secara tidak sengaja. Ketika seorang pelanggan yang membeli tas bertanya apakah Krisna juga menjual aksesoris.

Kemudian ia menawarkan beberapa produk kepada pelanggan. Produk itu ternyata laku. Ia kemudian mencoba membeli lagi beberapa aksesoris untuk dijual kembali melalui marketplace facebook.

Tidak disangka, seluruh stok produknya habis hanya dalam satu hari. Keuntungan yang diperoleh kembali ia putar sebagai modal. Dari hanya beberapa produk, penjualan berkembang menjadi belasan produk per hari.

Dalam 10 bulan, ia berhasil menabung untuk membuka toko. Kemudian ia merekrut karyawan, mempelajari pemasaran digital, dan mulai menggunakan e-commerce untuk mengembangkan usaha.

Omset terus naik setiap bulan dan toko terus berkembang baik dari segi varian produk, pemasaran, maupun tata kelolanya. Kini, usahanya memiliki 7 karyawan dengan omzet ratusan juta per bulan.

Melanjutkan Pendidikan dan Belajar Memimpin di Organisasi

Ketika usahanya mulai stabil, Krisna melanjutkan kuliah S1 di Universitas Merdeka Malang. Di sana ia bergabung dengan organisasi mahasiswa ekstra kampus yaitu Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI)

Dan pada tahun 2023 dipercaya menjadi Ketua PC KMHDI Malang periode 2023-2025.

"Saya sadar dari kecil bisa dibilang kurang teman dan tidak pernah punya circle pertemanan. Saya bergabung dengan KMHDI karena ingin belajar menghadapi banyak orang," ujarnya.

Awal kepemimpinannya tidak mudah. Banyak konflik internal dan kesulitan mengarahkan anggota.

Krisna bahkan mengerjakan hampir semua administrasi sendiri di tahun pertama. Namun ia tak menyerah. Tahun kedua, ia mengubah pendekatan dengan mendelegasikan tugas secara proporsional dan fokus pada hal-hal strategis.

Di bawah kepemimpinannya, KMHDI Malang menjadi lebih aktif dalam berjejaring ke instansi pemerintah dan keagamaan.

Ia sempat beberapa kali menyampaikan aspirasi melakukan audiensi dengan ketua DPRD, Wakil Wali Kota, dan Bupati Malang.

Saat musyawarah cabang di akhir kepengurusannya, ia menggelar kegiatan di Gedung DPRD Kota Malang yang dihadiri oleh Wakil Wali Kota dan Ketua DPRD Kota Malang serta jajaran instansi pemerintah dan keagamaan di Kota dan Kabupaten Malang.

Pengalaman memimpin organisasi membantunya membangun sistem dalam bisnis. Ia belajar memilih tim, membagi tanggung jawab, berkomunikasi secara efektif, dan memimpin secara lebih strategis.

Kemampuan negosiasi, manajemen konflik, dan delegasi yang ia asah di KMHDI ia terapkan untuk mengembangkan usahanya.

Hari ini, ketika ia melihat kembali perjalanan hidupnya, ia menyadari bahwa mungkin ia tidak pernah benar-benar memiliki titik di mana semuanya tiba-tiba berubah menjadi mudah.

Ia hanya berpindah dari satu kesulitan ke kesulitan berikutnya, sambil perlahan belajar bagaimana menghadapinya.

Dari seorang anak yang tumbuh dalam keluarga yang penuh konflik, hidup dengan keterbatasan ekonomi, pernah merasa malu karena kemiskinan, pernah merasa bodoh di sekolah, pernah bekerja dengan kondisi keuangan yang sangat sulit, pernah gagal dalam berbagai hal, sampai akhirnya ia belajar membangun usaha, memimpin orang lain, menyelesaikan pendidikan, dan menciptakan kehidupan yang jauh berbeda dari masa kecil saya.

“Kalau ada satu hal yang paling saya syukuri dari semua perjalanan itu, bukan semata-mata pencapaian yang saya miliki hari ini, tetapi kesempatan untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu jauh lebih baik dari diri saya sebelumnya.” tutupnya.

Editor : Rosihan Anwar
Kadek Krisna Dewa Anggana