RADAR BALI - Desa Adat Suwat, Kecamatan Gianyar, kembali membasuh diri dalam kegembiraan menyambut tahun baru 2026 dengan menyelenggarakan Festival Air Suwat (FAS) ke-10 yang dibuka mulai Kamis (1/1/2026).
Bendesa Adat Suwat Ngakan Putu Sudibya mengatakan, festival tahunan tersebut membawa pesan kuat tentang keseimbangan. Dalam pandangan masyarakat Bali, air adalah simbol harmoni yang menenangkan dan menyatukan.
“Air itu mengalir ke mana-mana, membawa kesejukan dan menyatukan. Seharusnya air memberi kehidupan, bukan menjadi sumber bencana,” ujarnya.
Menurutnya, kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan dan berkurangnya tutupan pohon adalah tanda bahwa alam mulai “marah”. Melalui festival ini, warga diajak untuk kembali memuliakan alam demi kesejahteraan bersama.
Puncak acara yang paling dinanti adalah prosesi Siyat Yeh atau Perang Air di kawasan Catus Pata (Perempatan Desa Adat) pada Kamis (1/1) pukul 13.30 WITA.
Ketua Panitia Festival, Ngakan Putu Mahendra Putra, menjelaskan bahwa prosesi ini merupakan ritual sakral untuk memuliakan air. Salah satu keunikan dalam perang air ini adalah penggunaan perempayan (perempatan jalan) sebagai simbol kebersamaan dan kesetaraan.
Meskipun telah bertahan selama satu dekade, FAS tetap mempertahankan jati dirinya sebagai festival berbasis desa yang inklusif. Keberhasilan festival ini menyatukan seluruh organisasi kepemudaan dari empat banjar di Desa Suwat: Banjar Petak Jeruk, Suwat Klod, Suwat Triwangsa, dan Suwat Kaja.
“Rahasia kami sederhana, kami menjaga kesederhanaan, tidak berlebihan, sehingga festival ini tidak memberatkan masyarakat dan justru semakin dicintai,” ungkap Ngakan Putu Sudibya.
Acara yang dimulai pukul 13.30 WITA ini diawali dengan persembahyangan bersama, penyerahan bibit pohon sebagai simbol konservasi dan pawai budaya yang meriah.
Empat banjar di Desa Adat Suwat melakukan pementasan secara bergantian. Fragmen Tari & Baleganjur dipersembahkan Banjar Petak Jeruk, fragmen Tari Sudamala dilaksanakan Banjar Suwat Klod dan dolanan Canang Rebong dipentaskan Banjar Suwat Triwangsa. Sedangkan fragmen Tari Sang Arjuna Metapa dipersembahkan Banjar Suwat Kaja.
Bupati Gianyar I Made Agus Mahayastra menyampaikan apresiasi dan berkomitmen memberikan dukungan anggaran pada 2027 untuk penguatan fasilitas desa adat dan pariwisata berbasis budaya.
Sejak pertama kali digagas, FAS diproyeksikan menjadi ikon wisata Gianyar Utara. Dengan adanya daya tarik seperti Suwat Waterfall dan Siwa Melange, desa ini kini dilintasi ratusan wisatawan setiap harinya.
Selain perang air, rangkaian festival juga diisi dengan kegiatan tradisional lainnya seperti jalan santai dan balap upih (pelepah pinang), lomba menanam padi dan menangkap bebek/babi, serta konser budaya di tingkat banjar.
Festival Air Suwat 2026 menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal, jika dijaga dengan ketulusan dan semangat gotong royong, mampu menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus benteng pelestarian alam bagi generasi mendatang.***
Editor : Ibnu Yunianto