DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Jalan raya didominasi oleh kendaraan bermotor, nyaris tidak ada ruang untuk pesepeda. Kondisi ironis memantik pegiat sepeda berdiskusi mengenai masa depan mobilitas perkotaan di Graha Yowana Suci, Denpasar, Sabtu (23/5/2026) malam.
Mereka berkumpul bukan untuk sekadar gowes, tetapi menjadi ruang dialog lintas komunitas dan masyarakat sipil yang menaruh perhatian terhadap tata kota.
Sepeda seharusnya tidak hanya dipandang sebagai hobi ataupun atraksi wisata semata, melainkan sebagai salah satu alternatif moda transportasi yang lebih bisa menjangkau banyak kalangan dan usia, serta lebih ramah lingkungan.
Hadir Man Angga, musisi Nostress, yang kerap menggunakan sepeda dalam aktivitas setiap harinya.
“Dengan menggunakan sepeda dan berjalan lebih pelan, saya merasa lebih melekat dengan kota tempat saya tinggal dan mencermati setiap sudut kota, yang tentu tidak kita peroleh dengan berjalan cepat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, transisi perubahan itu seharusnya muncul dari pengetahuan, bukan berdasarkan tren semata dan dapat dimulai dalam lingkup yang lebih sederhana seperti memengaruhi lingkungan sekitar untuk mencoba menggunakan sepeda dalam bermobilitas.
Bahkan, ia menyoroti setiap pelebaran jalan hanya menambah volume kendaraan, bukan mengubah kebiasaan masyarakat beralih ke transum maupun bersepeda.
"Konsumsi masif masalah cicil-mencicil. Pelebaran jalan menambah kendaraan juga nambah," kata Man Angga.
Melalui ruang diskusi santai ini, Penerbit Partikular bersama WRI Indonesia dan Koalisi Bali Emisi Nol Bersih mengajak para pengguna sepeda dan masyarakat sipil berbagi perspektif di kegiatan Bali Bicara Sepeda dan Ragam Gerakan Sosial di Baliknya mengenai kondisi saat fasilitas sepeda beserta tantangan yang dialami dalam bermobilitas menggunakan sepeda.
Baca Juga: Prabowo Salurkan Bantuan Beras 20 Kg untuk 33 Juta Penerima Bansos
I Komang Doni Kurniawan, Denpasar Bersepeda, sebagai pegiat sepeda sekaligus orang yang menggunakan sepeda untuk bekerja memberikan pandangannya mengenai fenomena “saling tunggu” antara pembuat kebijakan dan masyarakat enggan bersepeda sebelum fasilitas penunjang yang memadai dihadirkan terlebih dahulu.
“Sepeda ini masih dipandang sebagai rekreasi, media kumpul-kumpul, olahraga, dan lifestyle. Harapannya perlahan-lahan masyarakat dan pembuat kebijakan mulai sadar dan mulai melirik sepeda sebagai moda transportasi yang bisa menjangkau berbagai tempat, sekolah, dan bekerja,” ujar Doni.
Berfokus pada kondisi terkini, Muti Kurniasari, GEDSI Analyst dari WRI Indonesia menekankan rasa nyaman dan aman harus menjadi salah satu indikator dalam perencanaan infrastruktur sepeda, sehingga lebih inklusif bagi kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, maupun kelompok disabilitas.
Muti juga menambahkan bahwa perubahan itu harus memperhatikan sistem.
“Kita bisa belajar dari studi kasus di Amsterdam, gerakan perubahan yang besar bisa bekerja di awal namun gagal di operasionalnya apabila tidak memiliki sistem yang jelas. Transformasi ini tidak cukup hanya pada political will, namun perlu ada dukungan sistem yang memastikan hal ini berlanjut,” ujar Muti.
Hadir juga Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Denpasar, I Dewa Ketut Adi Pradnyana, mengapresiasi kegiatan ini. Ia mengakui, Pemerintah Kota Denpasar berkomitmen untuk membawa isu sepeda ini untuk didorong menjadi mobilitas berkelanjutan di Denpasar.
“Dari kami akan membawa isu sepeda ini ke dalam pembahasan di Forum LLAJ untuk kita dukung bersama mobilitas berkelanjutan dan inklusif. Saya berharap setelah dari forum ini, akan ada diskusi-diskusi lebih lanjut yang melibatkan komunitas sepeda serta institusi yang lain dari level pemerintah kota, pemerintah provinsi, dan nasional,” ujar Dewa.
Menghadirkan mobilitas berkelanjutan tidak hanya membangun beberapa meter jalur sepeda, namun komitmen untuk meningkatkan sistem dan memberikan hak ruang jalan yang adil dan inklusif, termasuk pesepeda dan pejalan kaki.
Transformasi ruang sepeda yang tidak hanya dapat dinikmati sebagai fasilitas wisata, melainkan sebagai simpul transportasi untuk mendukung produktivitas dan beragam aktivitas masyarakat.
Hal ini penting sebagai bagian dari upaya menciptakan mobilitas berkelanjutan dan tindakan nyata menekan emisi karbon untuk mencapai Bali emisi nol bersih.***
Editor : M.Ridwan