RADAR BALI - Hari Raya Anggara Kasih Julungwangi yang jatuh hari ini merupakan momentum sakral yang mempertemukan dua dimensi spiritual yang mendalam, yaitu penyucian diri dan kesadaran kosmologis.
Di tengah riuh rendah persiapan menuju Hari Raya Galungan yang akan jatuh pada 17 Juni mendatang, rerainan ini hadir mengetuk kesadaran untuk mengambil jeda dari rutinitas, menengok ke dalam batin, dan merayakan cinta kasih dalam wujudnya yang paling murni.
Dalam tradisi Hindu di Bali, Anggara Kasih Julungwangi adalah waktu yang intim untuk melakukan swa-segara Kertih, upaya penyucian diri lahir dan batin.
Pada hari ini, umat Hindu Bali menghaturkan sembah bakti kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Sri Vasu (sumber kemakmuran dan kasih) untuk memohon kebersihan jiwa dan keteguhan iman.
Konsep penyucian jiwa tersebut menjadi fondasi utama dari apa yang digaungkan dunia modern sebagai self-love atau seni mencintai diri sendiri. Berbeda dengan Valentine, self-love dalam laku Anggara Kasih Julungwangi tidak disempitkan sebatas memanjakan keinginan ego atau kesenangan duniawi.
Rerainan ini mengajarkan esensi cinta diri yang jauh lebih tinggi, yakni keberanian untuk membersihkan racun-racun di dalam pikiran (malaning batin) untuk memberikan hak kepada jiwa untuk merasakan kedamaian yang hakiki.
Ketika umat duduk hening melakukan persembahyangan, di sanalah momen untuk mengistirahatkan ego, memaafkan kesalahan masa lalu, dan mengisi kembali energi spiritual yang mulai meredup. Batin yang bersih merupakan hulu dari kesehatan mental dan fisik yang prima.
Uniknya, jalinan cinta ini tidak berhenti di dalam dada sendiri. Kosmologi Hindu mengajarkan bahwa hubungan antara manusia (atma atau mikrokosmos) dan alam semesta (bhuana agung atau makrokosmos) bersifat timbal balik dan saling mengikat.
Ketika seseorang berhasil menerapkan self-love dan berhasil berdamai dengan dirinya sendiri, pancaran energi positif itu secara otomatis akan meluas ke lingkungan di sekitarnya.
Melalui Anggar Kasih Julungwangi, cinta kasih yang telah penuh dan utuh di dalam diri itu diritualkan kembali untuk mengharmonisasikan alam sekitar.
Ikatan kasih sayang ini kemudian diaktualisasikan secara nyata oleh umat Hindu melalui serangkaian ritual keagamaan yang mengalir dari pura hingga ke dalam rumah tangga.
Karena jatuh pada wuku Julungwangi, hari ini juga kerap disebut sebagai Anggara Kasih Penguduhan yang berakar dari kata kudu menyiratkan adanya niat atau maksud yang kuat untuk melakukan pembersihan.
Secara serentak, krama adat dan prajuru mulai turun tangan melakukan pembersihan fisik di areal parhyangan, baik di Pura Kahyangan Tiga maupun Kahyangan Jagat.
Langkah fisik ini menjadi penanda awal dari seluruh persiapan sarana tempat suci menjelang Galungan. Sementara di tingkat keluarga, suasana khusyuk terbangun di merajan masing-masing.
Umat menghaturkan sesajen berupa Canang Burat Wangi dan Canang Lenge Wangi sebagai perlambang keharuman batin, Banten Pasucian untuk menyucikan roh yang bersemayam dalam tubuh, serta Banten Soda atau Pajegan di Rong Tiga (Sanggah Kemulan).
Pertemuan antara hari Selasa (Anggara) yang berenergi tegas dengan Kliwon yang bernuansa magis seolah menjadi ruang waktu yang pas bagi umat untuk menenangkan pikiran (ngerangsang batin) dan mengendalikan nafsu serta emosi buruk (sad ripu).
Di beberapa daerah di Bali, dimensi kasih sayang antarmanusia tetap mendapat ruang sakralnya pada hari ini. Bagi keluarga yang putra-putrinya sedang bertunangan atau memadu kasih, orang tua biasanya membuatkan banten khusus seperti Sesayut Jati Smara, Sesayut Pengipuk Smara, atau Sesayut Tulus Dadi.
Upakara ini dihaturkan khusus memohon kehadapan Sang Hyang Kamajaya dan Dewi Ratih agar jalinan cinta kasih generasi muda tersebut dianugerahi keharmonisan, kelanggengan, dan ketulusan.
Seluruh rangkaian ritus dan perenungan pada Anggar Kasih Julungwangi ini pada akhirnya bermuara pada satu titik jangkar yang krusial dalam kalender adat: penanda bahwa Hari Raya Galungan sudah sangat dekat, tepatnya lima belas hari lagi.
Hari raya Galungan adalah perayaan agung atas kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan).
Dengan menyucikan diri dan memancarkan cinta kasih yang tulus pada hari Anggar Kasih Julungwangi, persiapan menyambut Galungan tidak akan lagi terasa sebagai beban rutinitas, dan tidak sekadar tentang kemeriahan hiasan penjor atau hidangan yang melimpah.
Rerainan anggara kasih julungwangi menuntun pada kesiapan batin yang matang untuk benar-benar merayakan dan memenangkan dharma di dalam dada kita sendiri.***
Editor : Ibnu Yunianto