Dalam razia itu, petugas gabungan tak menemukan adanya WNA yang melakukan pelanggaran dokumen. Kepala Imigrasi Kelas I TPI Denpasar Tedy Riyandi menjelaskan, operasi di lokasi itu dilakukan karena menurutnya Parq Ubud merupakan salah satu tempat yang banyak dihuni oleh WNA di Ubud.
"Dari hasil operasi terdapat kurang lebih 90 kamar yang terisi, dan di sini juga hunian WNA Rusia sebanyak 50 persen, dan sisanya dari berbagai negara, Kazakhstan, Jerman dan ada juga Indonesia," katanya.
Dia menjelaskan, timnya memeriksa seluruh dokument WNA yang menginap di lokasi itu. Baik paspor maupun izin lainnya. Dan tidak ditemukan adanya pelanggaran. "Tim memeriksa dan seluruh dokumen WNA yang menginap baik paspor maupun izin tinggal masih valid," tambahnya.
Menurutnya, WNA yang tinggal di lokasi itu kebanyakan long stay. Bahkan ada empat WNA yang bekerja dan memegang kartu ijin tinggal terbatas. Mereka berasal dari Malaysia dan Rusia.
Sementara itu, General Nanager (GM) Parq Ubud, I Made Dwi Surya Permadi menjelaskan, bahwa memang sejuah ini tamu di lokasi itu kebanyakan berasal dari Rusia. Hal lain yang dijelaskan adalah terkait adanya personel polisi bersenjata lengkap yang setiap hari berjaga di lokasi itu.
Dimana setiap hari, selalu ada dua personel polisi yang berjaga dengan senjata laras panjang. Penjagaan oleh polisi itu telah dimulai bulan Februari 2023 lalu. Dia mengakui juga penjagaan itu memang sengaja diminta oleh manajemen Parq.
"Sebenarnya itu bukan permintaan dari perseorangan. Adanya isu war antara Rusia dan Ukraina. Jadi kita takutnya ada manuver dari negara tertentu," ujarnya. Secara tegas dia menyampaikan penjagaan oleh polisi itu hanya bagian dari antisipasi. Tak ada permintaan khusus dari turis Rusia maupun Ukraina serta tamu lainnya.
Dia menjelaskan pihaknya belum bisa memastikan sampai kapan polisi akan berjaga di lokasi itu. Namun dia memastikan penjagaan akan tetap dilakukan hingga situasi kondusif kembali.
Benarkah Parq milik WNA Rusia? Isu itu langsung dibantah Surya Permadi. Dikatakannya bahwa tempat itu dimiliki oleh tiga orang dengan jumlah saham beragam. Namun tak ada orang Rusia di dalamnya. Parq dimiliki oleh tiga orang, yakni orang Bali, orang Jerman dan dari Amerika. Editor : Donny Tabelak