Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Pabrik Mobil Balap Klasik di Bali Ini Mendunia, Harga Mobil yang Dijual dari Rp 2 Miliar- Rp 5 Miliar

Marsellus Nabunome Pampur • Minggu, 10 September 2023 | 09:05 WIB

  

Tuksedo Studio memproduksi replika sejumlah mobil balap klasik ternama yang selanjutnya dijual hingga ke luar negeri.
Tuksedo Studio memproduksi replika sejumlah mobil balap klasik ternama yang selanjutnya dijual hingga ke luar negeri.

GIANYAR-Meski dikenal dengan destinasi wisata yang berkembang pesat, ternyata industri otomotif di Bali juga patut diperhitungkan. Adalah Tuksedo Studio, pabrik replika mobil balap klasik. Studio yang terletak di desa Ketewel Gianyar itu memproduksi replika sejumlah mobil balap klasik ternama.  

Mulai dari Porsche, Mercedes hingga mobil klasik Aston Martine DB5 yang dipakai aktor Sean Connery dalam film James Bond. Tiruan mobil balap klasik berbagai merk ini dibuat sangat mirip dengan aslinya di Tuksedo Studio oleh 80 orang pekerja. 

Ditemui di Tuksedo Studio, Sabtu (9/9), Pudji Handoko selaku pendiri Tuksedo Studio menjelaskan, semua mobil yang dikerjakan di Tuksedo Studio dibuat sangat mirip persis aslinya. Dikisahkannya, bahwa pabrikan ini dimulainya sekitar 7 tahun lalu.  

Pudji Handoko yang saat itu merupakan seorang arsitek memutuskan pindah dari Jakarta ke Bali dan tinggal di Kuta Selatan, Badung. Setibanya di Bali, dia lalu membuat tiruan mobil pertamanya dengan jenis Porche 356 yang dimana aslinya merupakan mobil keluaran tahun 50-an. Mobil pertama itu dikerjakannya sendiri di kantornya. 

Mobil itu ternyata memancing minat banyak pihak. Dari sana, dia lalu membuat Tuksedo Studio pada tahun 2020 di Ketewel, Gianyar dan merekrut sejumlah karyawan untuk bisa membuat lebih banyak replika mobil balap klasik dari berbagai merek terkenal. 

"Kita mencoba, saya penasaran dimana selama ini banyak yang berlomba bikin barang murah. Takut gak laku. Kalah sama buatan Jerman, Eropa. Di sini saya coba paradigma itu kita hilangin. Di sini justru yang saya jual mahal malah paling laris," katanya.  

Menariknya, mobil buatan Tuksedo Studio dijual dengan harga paling murah di kisaran Rp 2 miliar. Bahkan yang paling mahal dijual seharga Rp 5 miliar yang merupakan replika mobil Mercedes Benz 300SL. Menurutnya apa yang dilakukannya saat ini adalah meng-copy atau meniru. Bukan mendisain. 

Rata-rata mobil yang ditirunya merupakan mobil klasik yang memang hak paten desainnya sudah dilepas. Sehingga yang dilakukannya saat ini tak melanggar. Di lokasi itu, pihaknya hanya membuat bodi, sasis dan perangkat utuh sebuah mobil. Namun untuk mesinnya maskh dibeli dan disesuaikan dengan merk dan bentuk replikanya. 

"Mesinnya kami belum buat karena butuh effort lumayan tinggi. Mesin kami pakai yang sesuai dengan desainnya. Sesuaikan dengan merk atau desain yang dibuat. Logo yang terpasang di mobil saya beli dan pasang yang aslinya. Saya gak membuat mobil yang masih diproduksi. Karena secara etika gak boleh. Saya membuat mobil yang sudah tak diproduksi dan umurnya di atas 30 tahun yang legalitasnya sudah dilepas," tambahnya. 

Lalu terkait nomor mesin atau surat-surat kendaraan, dikatakannya bahwa pihaknya memakai surat-surat legalitas mobil donor. Sejauh ini, sudah sekitar belasan unit laku dan dibeli oleh orang-orang di Eropa dan Amerika. Meski begitu, pasar terbesarnya saat ini masih di dalam negeri.  

Menariknya, ke depannya Tuksedo Studio akan membuat mobil dengan desain original tanpa meniru desain merk mobil terkenal. "Pasarnya seluruh dunia. Tapi sampai tahun depan masih dalam negeri dulu. Sudah banyak antrian. Di Bali satu unit. Sudah ada pesanan dari luar negeri juga," tambahnya.  

Sementara itu, Laksamana Gusti Handoko selaku Co Founder Tuksedo Studio mengatakan dari 80 orang pekerja di studio itu, 85 persen di antaranya merupakan anak-anak muda asli dari Bali. Mereka sebelumnya tak pernah bekerja di bidang otomotif khususnya pembuatan mobil. Namun saat terkena pandemi, mereka direkrut dan ditraining selama berbulan-bulan di Tuksedo Studio. 

"Kita di sini industri kreatif, otomotif dan semua yang kami lerjakan di sini terbilang barang seni ketimbang transportasi. Ini barang pajangan," ujarnya. Karena mendunia ya nama Tuksedo Studio, FIA (Federation Internationale de l’Automobile) sebagai induk organisasi otomotif dunia pada tahun 2023 ini juga menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah dari Konferensi Region II untuk area Asia-Pasifik dengan Bali, yang kemarin juga sempat menggelar G20, sebagai tempat dilaksanakannya acara otomotif tahunan itu.  

Konferensi yang bertajuk “Partnership for Impact” ini memiliki tujuan besar untuk memperkuat kolaborasi antar klub dan induk organisasi otomotif antar negara, dimana Indonesia sendiri dinaungi oleh IMI (Ikatan Motor Indonesia), terutama dalam topik road safety atau keamanan berkendara serta perkembangan teknologi otomotif dewasa ini secara umum. 

Menariknya, Tuksedo Studio ditunjuk juga sebagai tuan rumah dari pagelaran Conference Dinner FIA Region II Roundtable tersebut pada tanggal 18 September 2023 mendatang. "Penunjukan ini merupakan sebuah momen yang istimewa mengingat bagaimana Tuksedo Studio diisi oleh para pekerja serta seniman lokal dengan berbagai latar belakang dan memiliki lokasi yang jauh dari area pariwisata strategis di Bali," imbuhnya.  

Dijelaskannya, bentuk apresiasi yang diberikan oleh pihak FIA kepada industri otomotif lokal ini merupakan bukti bahwa Bali tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata semata, namun juga memiliki kemampuan dalam menghasilkan sebuah produk yang diakui kualitasnya oleh dunia, utamanya dalam sektor otomotif. (*)

Editor : Donny Tabelak
#tuksedo studio bali #sean connery #james bond #mobil balap #otomotif #industri otomotif