Lebih Dekat Mengenal Pura Taman Baginda, Tempat Permandian Para Raja di Gianyar: Caleg Juga Minta Restu
Marsellus Nabunome Pampur• Jumat, 1 Desember 2023 | 03:16 WIB
BERTUAH: Pura Taman Baginda banyak dikunjungi pemedek termasuk sejumlah calon legislatif.
GIANYAR, radarbali.id -Pura Taman Baginda yang terletak di Banjar Peteluan Desa Temesi, Gianyar belakangan ini ramai dikunjungi. Terutama oleh mereka yang ingin melakukan ritual pembersihan diri atau melukat. Pura ini sendiri memiliki historis yang melekat dan dipercaya serta diceritakan secara turun temurun.
Dimana diyakini bahwa dahulu kala, pura Taman Baginda adalah tempat permandian dan bersemedinya para raja. Kini tak hanya masyarakat umum, pura ini juga kerap didatangi para pejabat. Entah untuk berdoa atau juga untuk memohon keberuntungan. Bahkan menjelang tahun Pemilu 2024 mendatang, ada juga politisi atau Caleg yang datang berdoa memohon berkat di pura tersebut.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Kepala Dusun Banjar Temesi, I Wayan Mastra. Ditemui di rumahnya di Temesi Gianyar pada Kamis (30/11). Diceritakannya, beberapa pejabat terkenal di Bali juga pernah mendatangi pura tersebut. Seperti salah satunya mantan Gubernur Bali Dewa Made Beratha.
Wayan Mastra pun menceritakan bagaimana asal muasal nama pura itu menjadi Pura Taman Baginda. "Pura berarti tempat suci, Taman adalah tempat permandian, dan Baginda adalah seorang raja,” bebernya. Dulunya, jumlah warga di lokasi itu hanya 15 Krama. Sehingga pancuran untuk melukat saat itu hanya berjumlah 1.
Seiring perkembangan waktu, pura tersebut direnovasi karena makin banyaknya Krama di Banjar setempat yang kini mencapai kurang lebih 191 kepala keluarga. Kini sudah ada 11 Pancoran yang letaknya di tiga sisi.
Pada bagian Utama Mandala terdapat tirta yang disebut dengan Tirta Sudamala. Tirta Sudamala diyakini sebagai penyembuh dari segala macam penyakit. Sehingga tak sedikit warga setempat maupun dari luar Gianyar yang melukat di pura itu untuk memohon kesembuhan atau kebaikan hingga ke keberuntungan.
Menariknya lagi, warga tak hanya datang melukat. Setiap harinya banyak warga yang datang untuk mengambil air dari pancoran yang terdapat di depan pura. Air tersebut digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Bahkan air itu diyakini sangat bersih dan segar meski langsung diminum tanpa dimasak.
"Masyarakat Gianyar tiap hari mengambil air di pura ini. Membawa galon, bahkan ada yang membawa galon untuk persediaan di kantor. Aksesnya sudah ada mobil bisa langsung masuk. Ada yang pakai sepeda motor juga," tambahnya.
Tak ada pungutan khusus untuk warga yang datang ke pura tersebut. Hang ada Punia yang tak diwajibkan nominalnya. "Gak ada pungutan. Hanya dana punia seiklasmya. Kalaupun gak ada juga gak apa," pungkasnya.***