GIANYAR-Kerajinan seni ukir tulang dari Banjar Manik Tawang, desa Tampaksiring Gianyar sempat populer. Bahkan hasil karya seni ukir itu banyak diminati di luar negeri. Namun, minat para pengrajin sempat surut. Selain karena pandemi covid-19 beberapa tahun lalu, kurangnya strategi dalam pemasaran menjadi salah satu alasan hasil kerajinan ukir tulang tersebut tak terjual.
Karena hal itu, sebagian besar bahkan sudah menjual peralatan ukir yang mereka miliki. Tak adanya pemasukan dari seni ukir pun membuat sebagian besar para pengrajin seni ini pun beralih profesi. Ada yang beralih menjadi petani, dan juga menjadi tukang bangunan.
Ketua Paguyuban Pengrajin Ukir Tulang Gili Rawit Rupa, Banjar Manik Tawang Desa/Kecamatan Tampaksiring, I Ketut Gede Agus Adi Saputra menjelaskan, berkurangnya pengrajin seni ukir tulang tersebut sangat mengkhawatirkan. Jika dulunya dalam satu rumah bisa memiliki dua hingga lima pengrajin, namun kini jumlah itu berkurang drastis.
Karena sistem pemasaran yang tak tepat sasaran, pengrajin memilih mencari pekerjaan lain termasuk bekerja ke luar negeri. "Di sini ada sekitar 70 song (rumah). Jadi jumlahnya sampai ratusan. Tapi kini, yang berhasil kita ajak bangkit kembali sekitar 40 pengrajin saja," ungkapnya di sela acara penerimaan bantuan peralatan ukir tulang dari Airnav Indonesia di Banjar Manik Tawang, Tampaksiring, Selasa (19/12).
Dalam kesempatan itu, selain diberi bantuan peralatan, para pengrajin ini juga diberi latihan digital marketing. Hal itu agar mereka bisa memasarkan produk kerajinan yang mereka hasilkan secara tepat sasaran. Selain marketing, kendala lain yang dihadapi adalah proses pengiriman ke luar negeri yang cukup ribet.
Padahal peminat karya ukir tulang ini di luar negeri cukup banyak. "Ada pengrajin kami yang sudah sentuh pasar dunia, tapi sulitnya di ekspedisi. Kami harap bersama Airnav Indonesia, kami diajak sharing diskusi untuk cari solusi," ungkap pria yang akrab disapa Adi Siput ini.
Pada kesempatan yang sama, Farhan Jamil selaku Manajer TJSL Airnav Indonesia mengungkap, bantuan peralatan yang diberikan bernilai ratusan juta rupiah. Selain mendukung dengan memberi bantuan peralatan, pihaknya juga membeli karya ukir tulang dari komunitas tersebut. "Ini sebagai salah satu wujud dorongan kita agar pengrajin semangat untuk berkarya," tandasnya. ***
Editor : Donny Tabelak