Awalnya, komunitas yang telah berdiri lima tahun ini berawal dari pertemuan virtual lewat grup WhatsApp (WA). Mereka menemukan semangat dan wadah untuk menyalurkan bakat menyanyi di tengah keterbatasan.
MEREKA tampak antusias dengan aktivitas ini. Semangat berkarya penyandang disabilitas tunanetra di Bali mendapat dukungan penuh.
Akhirnya pengurus Yayasan I Ketut Alon, Kadek Ariasa, mendorong agar Komunitas Sahabat Mari Berkaraoke Ria Penyandang Disabilitas Tunanetra mendapatkan dana pembinaan dari pemerintah pusat melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan 2025.
Kini, puluhan anggota komunitas rutin berkumpul dan berkaraoke di Wantilan Yayasan I Ketut Alon, Desa Mas, Ubud. "Awalnya hanya bernyanyi lewat pesan suara di WhatsApp, tapi semangat mereka luar biasa," ujar Kadek Ariasa, yang juga Komisioner KPAD Bali.
Yayasan menyediakan tempat, tata suara, dan fasilitas pendukung lain. Ariasa berharap para tunanetra memanfaatkan kesempatan ini, apalagi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Bali tengah membuka program bantuan kebudayaan dengan alokasi dana hingga Rp50 juta untuk komunitas.
"Bernyanyi juga bagian dari kebudayaan yang perlu dijaga dan dikembangkan, termasuk oleh saudara-saudara kita penyandang disabilitas,” tegasnya. Ia berharap kegiatan ini dapat menjaga semangat hidup dan memberi inspirasi. [*]
Editor : Hari Puspita