Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mantan Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata Wafat, Pelebon Tanpa Naga Banda

Ida Bagus Indra Prasetia • Sabtu, 21 Februari 2026 | 21:58 WIB

Anak Agung Gede Agung Bharata yang bergelar Ida Begawai Blebar meninggal dunia pada Sabtu (21/2/2026).
Anak Agung Gede Agung Bharata yang bergelar Ida Begawai Blebar meninggal dunia pada Sabtu (21/2/2026).

GIANYAR, radarbali.id - Mantan Bupati Gianyar dua periode, Anak Agung Gde Agung Bharata yang bergelar dwijati Ida Begawan Blebar, wafat pada Sabtu (21/2/2026) pukul 13.36 WITA di RSUD Sanjiwani Gianyar.

Kondisi kesehatan tokoh Puri Agung Gianyar itu terus menurun dan mengembuskan napas pada usia 76 tahun 8 bulan. 

Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun yang merupakan adik almarhum menyatakan, pihak keluarga berusaha maksimal selama proses perawatan. ”Beliau sempat membaik dan pulang, tetapi kondisi kembali menurun,” ujar Agung Mayun.

Saat ini, layon (jenazah mendiang) disemayamkan di Puri Agung Gianyar.

Keluarga telah berembuk untuk menjalankan prosesi pelebon (ngaben) yang dipersiapkan berdasarkan petunjuk Ida Pedanda Nabe serta tradisi puri.

Rangkaian upacara pelebon dijadwalkan berlangsung pada 7 Maret 2026 di Setra Beng.

Upacara diawali pada 3 Maret dengan mesiram dan melelet. Rahina Anggara Wage Ugu bertepatan dengan Purnama ditetapkan sebagai hari baik untuk munggah ke tumpang salu.

Selanjutnya 5 Maret dilaksanakan munggah ngaskara lan ngaturan ayaban, sebelum puncaknya pelebon pada 7 Maret.

Karena almarhum memilih jalan dwijati atau lahir kembali sebagai sulinggih, maka proses palebon tidak menggunakan bade nagabanda sebagaimana lazimnya keturunan raja.

Prosesi pelebon akan memakai padma dan lembu putih.

”Piranti yang digunakan menyesuaikan status beliau sebagai dwijati,” jelas Agung Mayun didampingi Penglingsir Puri Bitera AA Alit Asmara dan Penglingsir Puri Batuan Anak Agung Gde Bagus.

Mendiang meninggalkan keduniawian usai menuntaskan pengabdian sebagai kepala daerah.

Hari-harinya lebih banyak diisi dengan penyucian diri, mendalami Weda, serta menjalani konsep wanaprastha atau tahap kehidupan dengan menjauh dari hiruk pikuk duniawi. Beliau memantapkan diri menapaki jalan sebagai Begawan hingga akhir hayat.

Sebelum memimpin Gianyar, almarhum yang lahir pada 23 Juni 1949 itu menapak karir di birokrasi. Awalnya bertugas sebagai staf di Sekretariat Negara Republik Indonesia hingga dipercaya menjabat Kepala Istana Kepresidenan Tampaksiring pada periode 1997–2003. 

Selanjutnya menuju jalur politik menjadi bupati Gianyar periode 2003–2008. Sempat menjadi Anggota DPRD Provinsi Bali periode 2010-2012. Ia kembali duduk sebagai bupati Gianyar periode 2013–2018. (*) 

 

Editor : Ida Bagus Indra Prasetia
#Ida Begawan Blebar #Sekretariat Negara Republik Indonesia #sulinggih #Kepala Istana Kepresidenan Tampaksiring #Mantan bupati gianyar #puri gianyar #DPRD Provinsi Bali #Anak Agung Gde Agung Bharata #dwijati #rsud sanjiwani #PADMA #lembu putih #ngaben #palebon #Bupati Gianyar #gianyar