GIANYAR, Radar Bali.id – Paradigma penanganan anjing liar di Bali tengah mengalami transformasi besar.
Pola lama yang memandang shelter hanya sebagai tempat penampungan statis mulai ditinggalkan, berganti menjadi pusat inovasi, edukasi, dan rehabilitasi yang berlandaskan prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare).
Baca Juga: Dewa Ratu! Balita Nahas di Karangasem Digigit Anjing Liar di Dahi, Dirujuk Setelah Disuntik VAR
Langkah progresif bertajuk "Shelter Inovasi Tiada Henti" ini diproyeksikan menjadi motor penggerak utama dalam mewujudkan target ambisius: Bali Bebas Rabies 2028.
Baca Juga: Di Mendoyo, Jembrana Anjing Liar Mengamuk, Serang Empat Orang Warga
Kepala Puskeswan Wilayah III Gianyar, drh. Arya Dharma, menegaskan bahwa perubahan ini adalah solusi berkelanjutan atas persoalan anjing liar di Pulau Dewata.
Fokus pada Rehabilitasi Perilaku
Aspek krusial dalam transformasi ini adalah pergeseran fokus ke arah pemulihan fungsi sosial hewan. Shelter modern tidak lagi hanya mengurung, tetapi mendidik kembali anjing-anjing yang awalnya trauma, penakut, atau agresif agar siap berinteraksi kembali dengan manusia.
"Tujuannya jelas, kita mengembalikan fungsi sosial anjing, bukan sekadar menyimpan mereka. Kami menerapkan sistem kandang terbuka dan semi-alami untuk meminimalkan stres pada hewan," ungkap drh. Arya, Sabtu (28/3).
Infrastruktur Hijau dan Digitalisasi
Tak hanya soal metode penanganan, sisi infrastruktur pun kini dirancang selaras dengan alam dan teknologi:
- Ramah Lingkungan: Bangunan menggunakan material lokal seperti bambu, dilengkapi sistem drainase anti-bau, hingga pengolahan limbah menjadi biogas.
- Transparansi Digital: Penggunaan database digital memastikan riwayat vaksin, identitas, hingga status adopsi tercatat secara akurat dan transparan.
Sinergi dengan Komunitas 'Feeder'
Drh. Arya menggarisbawahi bahwa keberhasilan program ini mustahil bertumpu pada satu pihak saja. Diperlukan koalisi strategis antara pemerintah, organisasi profesi (PDHI), desa adat, hingga masyarakat lokal.
Menariknya, ia juga merangkul komunitas feeder (pemberi makan). "Shelter dan gerakan feeding bukanlah lawan, melainkan mitra strategis," tegasnya. Program prioritas ke depan mencakup sistem adopsi dengan seleksi ketat serta pelatihan bagi relawan profesional.
Optimisme Bali Bebas Rabies 2028
Menutup keterangannya, drh. Arya memastikan gerakan ini bukan sekadar proyek sesaat atau retorika belaka, melainkan aksi nyata di lapangan. Dengan komitmen bersama yang konsisten, ia optimistis target Bali Bebas Rabies 2028 akan menjadi kenyataan, bukan lagi sekadar mimpi. [*]
Editor : Hari Puspita