Momen mengharukan sekaligus membingungkan dialami dua mantan narapidana, Chaerulsyah, 46, dan Sarmin, 46. Usai menghirup udara bebas dari Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Gianyar pada Rabu (12/8/2026) siang, keduanya sempat terlunta-lunta di pinggir jalan. Ini karena mereka tidak punya duit untuk ongkos pulang ke kampung halamannya di Jawa Barat.
INI bukan cerita dari episode sinetron. Bagaimana para lelaki mantan warga binaan ini takt ahu apa yang harus dilakukan.
Baca Juga: Bawaslu Pelototi Bakal Caleg yang Mantan Napi
Mereka bingung tak punya uang maupun ponsel. Dua pria yang sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan ini memberanikan diri masuk ke Gedung Sekretariat DPRD Gianyar, yang berada tepat di sebelah rutan.
Kedatangan mereka ke meja Sekretaris Pribadi (Sekpri) sempat membuat staf waswas, apalagi saat keduanya jujur mengaku baru bebas dari penjara.
Baca Juga: Mantan Napi Nyaleg Harus Nunggu 5 Tahun, Ismaya Tetap Daftar DPD RI, Begini Alasannya
Namun, situasi mencair setelah mereka menyodorkan surat keterangan bebas dan menceritakan kisahnya secara santun. Staf dewan kemudian menyambut hangat, menyajikan makanan, hingga memberikan bantuan uang dalam amplop untuk bekal perjalanan pulang.
”Kami tidak punya uang dan HP untuk menghubungi keluarga. Karena takut minta ke warga umum, kami coba memberanikan diri minta bantuan ke kantor ini,” ujar Chaerulsyah.
Ia menceritakan, kasus hukum yang menjerat mereka bermula pada Minggu (17/8/2025) lalu saat meminjam motor proyek untuk pergi ke pantai, namun motor tersebut hilang dicuri.
Karena takut melapor ke mandor, keduanya malah berurusan dengan hukum dan divonis satu tahun penjara. Setelah mendapat remisi 17 hari, mereka resmi bebas murni dan langsung menuju Terminal Ubung Denpasar untuk mencari bus.
Di tempat terpisah, pihak Rutan Gianyar mengonfirmasi bahwa proses pembebasan telah sesuai SOP. Pihak Rutan mengakui memang tidak ada alokasi anggaran khusus dari negara untuk ongkos transportasi pemulangan mantan warga binaan, namun pihak rutan tetap memfasilitasi sarana komunikasi telepon kepada keluarga sebelum warga binaan melangkah keluar. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali