Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ahli Baca Lontar Pensiun, Alih Aksara di Gedong Kirtya Bisa Tersendat

Yoyo Raharyo • Kamis, 12 Agustus 2021 | 22:45 WIB
ahli-baca-lontar-pensiun-alih-aksara-di-gedong-kirtya-bisa-tersendat
ahli-baca-lontar-pensiun-alih-aksara-di-gedong-kirtya-bisa-tersendat

SINGARAJA – Ketersediaan tenaga ahli pembaca lontar di Museum Gedong Kirtya kian terbatas. Dampaknya program alih aksara yang telah berjalan selama beberapa tahun terakhir terancam tersendat.



 


Tadinya Gedong Kirtya memiliki tiga orang tenaga ahli yang memiliki keahlian membaca lontar. Dari tiga orang tenaga ahli itu, dua orang berstatus PNS dan seorang lainnya berstatus tenaga kontrak. Sayangnya tenaga ahli yang berstatus PNS akan pensiun pada tahun ini.


 


Kepala UPTD Gedong Kirtya, Dewa Ayu Putu Susilawati mengatakan, hal itu menjadi tantangan tersendiri. Sebab tak banyak staf di Gedong Kirtya yang memiliki keahlian membaca lontar.


 


Terlebih lagi, aksara yang tertulis pada lembar daun lontar sangat beragam. Ada yang menggunakan aksara Bali Kuna, Sansekerta, maupun Jawa Kuna.


 


“Memang ini tantangan. Karena tenaga ahli kita tinggal satu orang saja. Kami berupaya agar program kami tidak sampai terhambat hanya karena kekurangan tenaga,” kata Susilawati.


 


Menurutnya, pihak museum telah mengusulkan pengadaan tenaga ahli di bidang pembacaan lontar. Ia mengaku cukup sulit mendapatkan tenaga ahli dan terampil. Sebab kemampuan membaca lontar sangat tergantung dari jam terbang.


 


“Formasi CPNS sudah kami usulkan. Kami paham kalau formasi ini (tenaga ahli pembaca lontar, Red) memang sulit didapat. Tapi tetap kami ajukan, karena itu kebutuhan. Kami juga usulkan lewat rekrutmen tenaga kontrak, mudah-mudahan bisa disetujui,” imbuhnya.


 


Meski mengalami keterbatasan tenaga, Susilawati menegaskan program alih aksara lontar akan tetap berjalan. Ia berupaya mengoptimalkan tenaga yang ada di Gedong Kirtya. Secara bertahap mereka dilatih membaca lontar.


 


“Semua pegawai yang ada kami berdayakan. Mereka kami minta bantu membaca sedikit demi sedikit. Kalau ada yang kurang paham, nanti ditanyakan sama yang sudah terampil. Supaya program alih aksara ini tetap jalan,” imbuhnya.


 


Asal tahu saja, dalam setahun Museum Lontar Gedong Kirtya biasanya melakukan alih aksara terhadap 8-10 cakep lontar. Hingga kini tercatat ada 1.183 cakep lontar telah melalui proses alih aksara.


 


Sementara jumlah lontar yang kini tersimpan di gedong kirtya mencapai 2.022 cakep lontar. Artinya masih ada 839 cakep lontar yang perlu dialihaksarakan.

Editor : Yoyo Raharyo
#lontar #tenaga ahli