Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Gek Kiki Mantap Jadi Transgender setelah Tujuh Kali Berniat Bunuh Diri

Yoyo Raharyo • Minggu, 23 Januari 2022 | 00:15 WIB
gek-kiki-mantap-jadi-transgender-setelah-tujuh-kali-berniat-bunuh-diri
gek-kiki-mantap-jadi-transgender-setelah-tujuh-kali-berniat-bunuh-diri


Nama aslinya I Wayan Rikiawan Pratama. Tapi, dia memilih menjadi transgender. Namanya pun menjadi Gek Kiki. Jauh sebelum beken dengan nama Gek Kiki, dia melewati hari-hari cukup berat sebagai lelaki yang bergaya feminin. 




MARSELL PAMPUR, Denpasar





GEK Kiki, begitu nama bekennya. Trans gender berusia 26 tahun itu dikenal sebagai selebgram, master of ceremony (MC) hingga penari tradisional Bali.



Di media sosial Instagram, dia mempunyai ratusan ribu pengikut. Terlepas dari profesi yang menjadi pemasukan tetapnya itu, transgender bernama asli I Wayan Rikiawan Pratamaitu juga seorang penari arja, sebuah dramatari Bali. 


 


"Saya juga penari arja dengan peran Galuh Liku. Saya lebih ke tarian-tarian tradisional," katanya saat ditemui di salah satu kafe di Ubud, Gianyar pada Minggu (22/1/2022).



Diceritakannya, sejak kecil dia memang suka mempelajari tari dan kesenian tradisional. Hingga akhirnya pada tahun 2012 dia mulai memerankan Galuh Liku.


 


"Saya suka seni dari TK. Tapi jadi peran Galuh Liku dari 2012," ujarnya transgender asal Banjar Ubud Tengah, Desa Pekraman Ubud, Gianyar ini.



Sebagai seorang transgender, tak mudah bagi seorang Gek Kiki untuk menghadapi cibiran orang terdekat dan lingkungan sekitar. Diceritakannya, bahwa sejak kecil dirinya memang sudah mulai memoles wajahnya atau berdandan ala wanita. 


 


Dia juga suka memakai pernak-pernik dan pakaian wanita. Dari sana, cibiran dan olokan datang silih berganti. Tidak hanya dari lingkungan tempat tinggal, juga di lingkungan sekolah.



"Dari SMP ke SMA itu ngondek (lemah gemulai)-nya keluar makin keras. Keluarga sempat benci juga. Hujatan di banjar, desa. Tapi sekarang dah berkurang. Ya, satu dua masih," terangnya. 


 


Dengan banyaknya tekanan dan olokan yang dia terima, saat dirinya menginjak usia SMA, dia bahkan pernah berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.



"Saya pernah depresi karena hujatan. Tujuh kali mau bunuh diri saat SMA. Karena waktu itu keluarga dan lingkungan saya tidak menerima. Pernah dilempar juga saat jalan," bebernya. 


 


Saat dirinya masuk kuliah, sekitar tahun 2016 dan 2017, dia akhirnya memantapkan dirinya sebagai seorang transgender. Dia mulai mengubah bentuk tubuhnya menjadi mirip wanita. Begitu juga dengan dandanan dan cara dia berpakaian.



"Saya lebih nyaman sekarang. Ini emang jalan saya begini. Gak terus-terusan trangender dianggap hina atau dipandang sebelah mata," pungkasnya.

Editor : Yoyo Raharyo