Mereka terdiri dari sepuluhan anak yang bertugas memakai barong hingga membawa gamelan, berjalan keliling menunggu dipanggil warga untuk beratraksi. Ini tentu punya keasyikan tersendiri. Karena selain berkesenian juga mendapat saweran dari warga.
Jadi mereka melestarikan tradisi berkesenian juga sekaligus mendapat "bonus" karena ada sawerannya. Juga sekalian untuk melatih mental untuk pentas keliling.
Bocah-bocah ini tidak memasang tarif. Seikhlasnya. Kebanyakan warga memberi uang sepuluh ribuan atau lebih. Mereka beratraksi di depan rumah.Kadang kepanasan, kadang kehujanan. [adrian suwanto/radar bali] Editor : Hari Puspita