Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dari Pameran Lukisan Komang Bayu Selama Pandemi: Andalkan Teknik Serba Pecut Lidi

Hari Puspita • Sabtu, 14 Januari 2023 | 00:03 WIB
TUNJUKKAN TEKNIK MELUKIS Komang Bayu (baju putih, kedua dari kiri) tengah memperagakan Teknik melukisala pecut lidi,  saat pameran di Galeri I Gusti Gede Aryadi Art Space Tanah Lot Tabanan.  (foto: juliadi/radar bali)
TUNJUKKAN TEKNIK MELUKIS Komang Bayu (baju putih, kedua dari kiri) tengah memperagakan Teknik melukisala pecut lidi, saat pameran di Galeri I Gusti Gede Aryadi Art Space Tanah Lot Tabanan. (foto: juliadi/radar bali)
Selama ini karya seni lukis lazimnya memakai kuas. Namun kali pelukis Komang Bayu lebih suka menggunakan teknik lidi sapu dalam karyanya selama pandemi.

SEJUMLAH lukisan dipamerkan di sebuah galeri I Gusti Gede Aryadi Art Space Hotel Dewi Sinta di Obyek Wisata DTW Tanah Lot, Kediri Tabanan Rabu malam (11/1).

Ada sekitar 30 lukisan. Kali ini yang ditampilkan menceritakan tentang kesuburan alam Tabanan. Sebuah kabupaten  yang dominan dengan masyarakat agraris.

Yang berbeda dari lukisan yang ditampilkan itu adalah teknik melukis. Biasanya melukis menggunakan kuas, tetapi ini menggunakan lidi-lidi sapu.

Lukisan-lukisan itu adalah milik dari I Nyoman Bayu Adi Mahantara atau akrab disapa Komang Bayu, 51.“Puluhan lukisan ini sebagian besar hasil karya saya saat pandemi Covid-19. Saya melukis di rumah dan menghasilkan banyak karya,” kata pria asal Banjar Dinas Mekar Sari, Desa Gadungan, Selemadeg Timur, Tabanan.

Dia mengaku sebanyak 30 lukisan dengan berukuran ukuran yang ditampilkan secara Solo Exhibition ini mengambil tema Swi Kreti memuliakan sawah.

Lukisan-lukisan ini menceritakan pertanian dan kesuburan alam Tabanan. Mulai dari petani menanam padi, panen padi, persawahan di daerah Jatiluwih dan tradisi mepeed masyarakat Tabanan.

“Kesuburan alam Tabanan ini bukti yang ditunjukkan dengan adanya Pura Pekendungan di Tanah Lot Desa Beraban,” tutur Komang Bayu yang mulai menceritakan hasil karya lukisan miliknya.

Komang Bayu menyebut lukisan-lukisan yang ia tampilkan berbeda dengan lainnya. Biasanya orang melukis di atas kanvas dengan menggunakan kuas.

Tetapi dirinya tidak, menggunakan lidi-lidi sapu. Teknik itu dinamai dengan teknik pecut lidi.  Menemukan teknik pecut lidi ini untuk melukis saat Covid-19 dua tahun lalu.

“Saya ingin berbeda dengan yang lainnya. Teknik pecut lidi ini dilakukan setelah sejumlah warna cat yang sudah tercampur, baru menggunakan pecut lidi untuk melukis diatas kanvas,” ungkap Komang Bayu.

Dia menambahkan teknik pecut lidi sejatinya tanpa sengaja Komang Bayu temukan.

“Saya tidak kepikiran hasilnya bakal bagus gunakan teknik pecut lidi. Kalau bahan lukisan sama hanya teknik yang berbeda. Katanya pelukis itu harus punya teknik melukis berbeda dengan lainnya,” imbuhnya.

Selain itu diakui oleh Komang Bayu teknik melukis gunakan pecut lidi, sejatinya juga terinspirasi dari pelukis I Made Tegel Subrata dari Gianyar. Karena dirinya pernah belajar melukis dua tahun kepada Made Tegel.

“Beliau (Mede Tegel) berpesan setiap lukisan tidak boleh menjiplak, harus punya keunggulan pada teknik melukis. Made Tegel melukis gunkan kojong, saya tekniknya gunakan pecut lidi,” beber pria yang juga memiliki Sanggar Seni Pada Dadi (Padi).

Selama bergelut dengan teknik melukis pecut lidi, kendala yang pernah dialami Komang Bayu pada saat pertama saja, dimana butuh ketelatenan.

Mulai dari dalam segi pembentukan obyek, karena melukis gunakan lidi rumit butuh kesabaran. Bila lukisan penuh gradasi warna dan lebih figurative, maka proses waktu 2-3 hari baru satu lukisan bisa terselesaikan. Apalagi lebih detail lukis yang digambar maka waktunya butuh waktu panjang.

“Jadi tergantung dari gambar yang ingin dilukis, lebih sulit maka butuh waktu yang panjang proses penyelesaiannya,” jelas Komang Bayu.

Kini hasil karya dengan teknik melukis pecut lidi tak sia-sia. Sejumlah karyanya seni lukisnya pun laku terjual saat dipamerkan di galeri I Gusti Gede Aryadi Art Space Hotel Dewi Sinta Obyek Wisata DTW Tanah Lot, Kediri Tabanan

“Sudah ada yang laku terjual lukisan saya. Dua lukisan sudah ada pembeli dengan kisaran harga Rp 5-7 juta,” ucapnya.

Dia berharap, sebagai perupa lokal di Tabanan, mudah-mudahan pemerintah dapat melihat hasil karyanya. Kemudian memberikan ruang space pada pelukis lainnya.

“Bukan saya saja, karena pelukis Tabanan selama ini lebih banyak memamerkan karya ke Galeri luar Tabanan,” tandasnya. [juliadi/radar bali]

 

  Editor : Hari Puspita
#teknik lukis pecut lidi #pameran lukisan #pelukis komang bayu #pelukis asal Tabanan #lukisan