Aksi ngelawang barong itu dilakukan pada Sabtu (14/1/2023) sore. Mereka mulai berjalan dari Kantor Perbekel Kalibukbuk menuju patung lumba-lumba di kawasan wisata Lovina. Jarak yang ditempuh kurang lebih sejauh satu kilometer.
Mereka bukan hanya ngelawang menggunakan barong bangkung. Tapi juga menggunakan sebuah barong buntut dan dua buah rangda. Ada beberapa anak asuh yang berperan sebagai bojog alias kera, ada juga yang beraksi sebagai penabuh.
Sepanjang perjalanan, aksi mereka mendapat perhatian para pengguna jalan. Ketika memasuki kawasan wisata, utamanya di sepanjang Jalan Pantai Binaria, kedatangan mereka langsung menarik perhatian wisatawan mancanegara. Beberapa wisatawan yang tadinya berada di bar, bergegas mengikuti anak-anak tersebut untuk mengabadikan momen.
Begitu sampai di areal patung lumba-lumba, mereka melakukan berbagai aksi dan gerakan tari. Beberapa gerakan yang biasa dipentaskan dalam calonarang, termasuk gerakan ngurek juga mereka peragakan dengan menggunakan replika keris dari kayu.
Ketua Bank Sampah Kaliber, Ketut Budiasa mengatakan, aksi itu merupakan spontanitas anak-anak asuh di bank sampah. Selama ini bank sampah merangkul puluhan anak di sekitar sekretariat. Mereka diajak les mata pelajaran juga les tari. Syaratnya mudah, mereka hanya perlu menyetorkan sampah plastik setiap mengikuti les. Tidak ada patokan berapa banyak sampah yang harus dibawa.
Hal itu, kata Budiasa, telah berlangsung selama enam tahun terakhir. Karena sudah berlangsung cukup lama, anak asuh juga haus dengan ajang kesenian. Mereka ingin tampil pada berbagai kesempatan. Kebetulan bank sampah memiliki satu set gamelan sederhana, barong buntut, barong bangkung, serta rangda. “Sebenarnya anak-anak sudah ingin ngelawang waktu manis galungan. Tapi saya minta diundur saja pas kuningan. Akhirnya benar-benar ditagih sama anak-anak,” kata Budiasa.
Menurutnya untuk ngelawang tidak butuh persiapan banyak. Mereka hanya berlatih selama dua hari, sejak Kamis (12/2) lalu. “Setelah itu ya tinggal improvisasi saja. Tapi anak-anak memang sudah biasa latihan. Seminggu sekali tiap hari Kamis kan latihan tari,” imbuhnya.
Aksi itu menarik perhatian para warga setempat dan wisatawan. Mereka berkumpul di seputaran patung lumba-lumba. Sebagian besar berusaha mengabadikan momen tersebut menggunakan ponsel yang dibawa. (eps)
Editor : Donny Tabelak