BEGITULAH, Yoga Partha, selaku penulis menyematkan tajuk pameran dua maestro, Almarhum Made Wianta dan Nyoman Erawan.Pameran Unexpected Reunion yang digelar di Teh Villa Gallery Surabaya itu berlangsung 23 Mei 2023 hingga 31Juli 2023.
Dalam pameran ini, almarhum Made Wianta menampilkan beberapa karya yang jarang ia publikasi selama ini, yakni “abstrak minimalis”.
Kedua perupa, sama-sama memiliki kegelisahan kreatif tanpa henti. Baik Wianta maupun Erawan tak hanya berekspresi pada karya seni lukis saja, mereka juga berekspresi lewat media 3 dimensi maupun multi dimensi.
Nyoman Erawan, yang memiliki penggayaan abstrak ekspresionis, senantiasa akrab dengan ikon-ikon budaya Bali. Itu adalah bukti kegelisahan pencariannya tentang makna-makna kebudayaan Bali yang melingkupi dalam kehidupan Nyoman Erawan.
Dan pencarian itu, Nyoman lakukan tanpa henti. Manakala media dwi matra tak mampu menampung ekspresinya, maka Nyoman Erawan Akan berekspresi pada medium tri matra atau multi matra. Demikian juga dengan Made Wianta, akan melakukan hal yang sama.
Menurut penulis Gurat Institute, Yoga Partha, meskipun sama-sama menyandang perupa multi dimensi, kedua tokoh besar seni rupa Bali ini berada dalam dua kutub yang saling bertolak belakang secara konsep dan pandangan berkesenian.
Penulis seni rupa asal Prancis Jean Couteau, Made Wianta tak pernah mencerminkan simbol-simbol khas Bali. Ia, demikian dituturkan oleh Jean, tak pernah berkehendak untuk menjadi seorang seniman yang Bali.“Saya ingin melampaui batasan sebutan dan batasan tradisi apa pun”. Begitu antara lain penuturan Wianta suatu saat.
Pernyataan ini menjadi penegasan terhadap karya-karyanya yang begitu eksploratif dan berupaya keluar dari keterkaitannya dengan nilai-nilai tradisi budaya.
Karya-karya menghadirkan ekspresi formal yang sangat modernis. Kendatipun demikian, untuk karya-karya Made Wianta periode Karangasem, sangat kental anasir kebudayaan Bali.
Sementara Nyoman Erawan juga tak kalah menariknya. Perupa kelahiran Banjar Delod Tangluk, Sukawati-Gianyar 1958 ini adalah seniman yang tumbuh dalam keluarga dan lingkungan masyarakat yang memegang teguh adat-istiadat dan tradisi religi Hindu Bali.
Keterlibatannya dalam kegiatan adat dan religi, menumbuhkan kesadaran untuk lebih
mendalam untuk memahami nilai yang terkandung dalam konsep upacara yadnya, yang sekaligus mendukung bagi proses kreativitas penciptaan karyanya.
Penghayatan Erawan terhadap nilai-nilai beserta filosofi kosmologi Hindu, memberinya dasar untuk melakukan interpretasi-interpretasi dan mentransformasikan nilai-nilai tersebut ke dalam konsep
berkarya. Keterlibatan yang mendalam dengan tradisi Bali dan mendalami nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya, membuat Erawan dengan sadar untuk tak pernah berhenti mengolah eksplorasi rupa yang memakai simbol dan ikon yang berasal tradisi budaya Bali.
Begitulah perbedaan kedua maestro senirupa Bali ini.
Karena itu pertemuan keduanya dalam sebuah pameran menjadi menarik untuk disimak dan dinikmati. Perjumpaan spesial pada pameran dua maestro ini diinisiasi oleh Teh Villa Gallery. Menurut Ronald Sitolang, selaku owner Teh Villa Gallery - mempersiapkan pameran ini selama 6 bulan.
Nah, dari penjualan karya yang dipamerkan ini 10% hasil penjualan karya dan , tambah Ronald, disumbangkan ke panti asuhan yang membutuhkannya.[made dwija putra/radarbali] Editor : Hari Puspita