DENPASAR,radarbali.id - Ni Made Gadis Putri Maharani baru lulus dari studinya D3 Batik dan Fashion di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia sangat tertarik dengan isu perempuan. Ibunya seorang advokat dan aktivis perempuan yang kerap mendampingi perempuan mencari keadilan sehingga membuat akrab dengan isu perempuan.
Meski, bidang ilmunya pada batik dan fashion membuatnya tetap bisa menyuarakan suara perempuan dengan membuat pameran solo yang bertajuk, Masa ke Masa di Ruang Pameran Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), 21 – 28 Juli 2023.
Karya merupakan jenis batik kontemporer. Semua kain yang dipajang murni hasil tangannya, dari gambar hingga mencanting batik sendiri jenis batik kontemporer. Bahkan, memilih kain dan melakukan pewarnaan. Gadis memilih gaya batik kontemporer karena ia bisa bebas berekspresi dan masih berkaitan dengan masa kini.
Ditemui di ruang Pameran Dharma Negara Alaya (DNA), Jalan Mulawarman, Denpasar kemarin (22/7), Perempuan 22 tahun ini menceritakan, sering ikut ibunya saat mendampingi perempuan yang memperjuangkan keadilan.
Ia melihat bagaimana perempuan masih tidak mendapat keadilan dalam kehidupan keluarga maupun sosial. Ketidakadilan itu dituangkan dalam kain ungu dengan gambar perempuan menjunjung timbangan keadilan.
"Nyuun (menjunjung) neraca. Neraca lambang dari hukum, secara visual karya ini memperjuangkan keadilan seperti kesetaraan gender dalam menjalankan hak dan kewajiban antara laki-laki maupun perempuan.Adanya keberpihakan gender secara hukum menjadikan perempuan terdiskriminasi," ungkap Made Gadis yang lahir pada 9 Februari 2001 ini.
Baca Juga: Menko Airlangga Apresiasi Industri Batik Bertahan dan Ekspor Naik
Tidak hanya itu, ia juga menulis kegelisahan perempuan dalam lembaran kain ungu. Tiap kata yang ditulis merupakan sumbangsih pemikiran dan perasaan perempuan yang dia temui. Diantaranya mereka adalah para korban kekerasan dan pelecehan seksual.
"Dari kecil ibu di LBH pemerhati perempuan dan anak. Terus dari kecil ibu merintis kalau mendampingi korban Gadis ikut, saya melihat didampingi waktu sidang dan psikolog atau terapi. Teman-teman kalangan anak-anak dan ibu, sering mendengar dan keluh kesa maupun curhatan. Curhatannya mengenai keseharian jadi perempuan Bali kurang didengar terus bagaimana hidup dengan mertuanya," tuturnya.
Ada delapan kain dengan batik tulis yang berisikan keluh kesah dan ungkapan perasaan para perempuan. Gadis memiliki concern terhadap perempuan, bukan hanya mengenai titik lemah seorang perempuan, tapi juga kehebatan perempuan Bali.
Menurut Gadis, perempuan Bali selalu melibatkan seni dalam kesehariannya seperti membuat upakara dan peralatan upacara. Ia menggambarkan seni dalam persembahan dengan gambar gebogan yang merupakan persembahan kepada Tuhan dalam kegiatan upacara Agama Hindu. Perempuan Bali sedang nyuwun gebogan digambarkan dengan anggun dan tangguh.
"Perempuan Bali menjalankan keseharian ada unsur seni sama seperti membuat banten perlu keterampilan, buat tetuasan atau menghias dengan bunga pasti perlu skill seni dan keterampilan, selain itu juga ada rasa keikhlasan melakukan itu," bebernya.
Ada satu karya yakni motif figuran atau objek pendukung pada lukisan Kamasan Kertha Gosa, Klungkung yang menggambarkan unsur alam flora dan fauna kecil terdapat alam semesta. Gadis datang langsung ke ke Kamasan Klungkung untuk belajar mengenai lukisan Kamasan bersama Ibu Mangku Muriati. "Sebagai unsur alam semesta tersebut ditransformasikan ke dalam motif batik yang dapat kita temui di tiga karya dengan judul alam raya, alam semesta dan makrokosmos," jelasnya.***
Editor : M.Ridwan