Tak gampang untuk bisa mencipta identitas, membangun konsep musik sebuah band. Pengaruh band dan musisi lain sering mengangkangi pikiran, inspirasi dan sulit lepas dan band musisi yang dikaguminya. Donny menyebut God Bless beruntung bisa lepas dari bayang-bayang sejak album kedua, Cermin, tahun 1980.
Album pertama God Bless, Huma di Atas Bukit banyak panen kritik, dibilang banyak mencontek?
Waktu awal-awal kami memang banyak terpengaruh tren musik rock di zaman itu. Tren art rock, progressive rock. Seperti Deep Purple, Kansas, Jethro Tull, Genesis. Album pertama banyak terpengaruh.
Tetapi di album kedua (tahun 1980), kami di God Bless ini setelah sekian tahun, akhirnya sudah bisa mengeksplorasi jati diri kami sendiri. Kami sudah punya konsep. Sudah menyadari orisinalitas kami sendiri.
Makanya di album kedua (Cermin) kami sudah berbeda dalam mencipta lagu, aransemen. Kami sudah menemukan identitas kami, karakter kami.
Album pertama banyak pengaruh dari band-band yang dikagumi God Bless?
Iya. Bagaimanapun pada saat itu kan trennya progressive rock. Kami jelas terpengaruh tren itu. Tetapi akhirnya kami menyadari dan kami mengeksplorasi identitas kami sendiri.
Tapi untuk bisa punya karakter sendiri kan tidak mudah. Butuh waktu. Setelah sekian tahun bersama di God Bless, kami akhirnya punya chemistry untuk berkarya dengan konsep sendiri. Mulai di album kedua (Cermin) itu.
Susah untuk berkarya secara ideal sebagai band rock saat itu?
Sangat susah. Kami punya konsep album progressive rock waktu itu, kami diketawain sama perusahaan rekaman. Diketawain sama produser. Susah untuk merekam album musik rock kalau mau idealis di tahun-tahun itu.
Album pertama God Bless (album self tittle atau biasa disebut album Huma di Atas Bukit) itu bisa rilis, bisa diproduksi sama Pramaqua itu karena produsernya teman sendiri. Kalau orang lain yang berhitung bisnis yang sulit.
Itu pun memakai alat yang seadanya. Alat rekamannya seadanya. Nggak standarlah. Makanya hasilnya juga tidak maksimal. Tapi masih beruntung ada yang mau merekam album music rock.
Anda suka permainan Geddy Lee-nya Rush?
Oh, iya, Rush. Geddy Lee, pemain basnya.
Saya pernah baca majalah musik Aktuil, Anda katanya sempat akrab dengan Geddy Lee, pemain basnya Rush?
Oh, itu. Itu waktu saya di Amerika (Donny Fattah sempat meninggalkan God Bles dan pindah ke Amerika Serikat). Saya sempat kenalan, ngobrol dengan Geddy Lee. Ternyata dia orangnya baik, ramah, humble.
Saya perlihatkan sejumlah majalah tentang saya, tentang God Bless. Dia bilang, oh itu kamu? Seharusnya kamu tetap menjadi musisi saja, tetap berkarya. Akhirnya saya memutuskan untuk balik jadi musisi lagi.
Jadi, Geddy Lee itu orangnya humble, baik, santun?
Iya. Zaman itu, tahun-tahun 1970-an, tahun 1980-an, musisi itu ya seperti seniman-seniman itu. Mereka punya kepekaan hati, baik hati.
Saya berkeyakinan ya, kalau seseorang itu memang jiwanya musisi, berjiwa seniman, pasti akan lembut, baik, hatinya. Seperti itu.
Banyak dari para rocker menjadi “insaf” di hari tua dan manjadi lebih saleh. Seperti Syech Abidin, Sunata Tanjung, Arthur Kaunang, Gitu Rollies, menurut Anda?
Ya, saya kira itu semacam kebutuhan. Ketika kita sudah semakin tua, maka secara alami tentu di hari tua ingin lebih banyak beribadah. Mendekatkan diri kepada Tuhan. Semoga kita semua bisa seperti itu.[selesai]
Editor : Hari Puspita