DENPASAR,radarbali.id - Usia tidak akan mematikan semangat. Seperti Pencetus drama klasik Ida Bagus Anom Ranuara, meski makin sepuh, Anom Ranuara masih terus berkarya, bahkan hingga usianya kini melewati 80 tahun. Untuk mengapresiasi dedikasi dan pencapaiannya dalam dunia seni drama klasik, Festival Seni Bali Jani mempersembahkan pergelaran Tribute to Ida Bagus Anom Ranuara di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat (21/7) lalu.
Meski sudah uzur, energi Anom Ranuara terbilang masih relatif terjaga. Usai mengisi sesi gelar wicara, Anom Ranuara masih mengisi sesi pertunjukan latihan drama klasik di atas panggung bersama anggota Teater Mini.
Bahkan, dalam pergelaran yang diproduksi Kuta Tunas Visual dan disutradarai Gede Sustrawan itu, Anom Ranuara tak hanya tampil mengisi sesi gelar wicara (talk show) namun juga masih mampu tampil mempertunjukkan adegan latihan drama klasik bersama anggota Sanggar Teater Mini.
Anom Ranuara terkenal pada Era 1980-an hingga 1990-an, masyarakat Bali masyarakat Bali sangat akrab dengan drama klasik yang ia mainkan karena kerap ditayangkan TVRI Denpasar (kini TVRI Bali).
Ida Bagus Anom Ranuara berasal dari Desa Blahkiuh, Badung. Dia lahir pada 18 Juni 1943 serta besar di Denpasar. Kepiawaiannya berteater bermula dari kegiatannya dalam kelompok “drama janger” di Desa Blahkiuh, kampung halaman sekaligus tempatnya mengabdi sebagai guru sekolah dasar (SD) pada tahun 1962.
Pada tahun 1978, Anom Ranuara mendirikan Teater Mini Badung dan mementaskan drama klasik. Sejak tahun 1979, sudah lebih dari 100 lakon drama klasik yang ditulis dan dipentaskannya. Belakangan Teater Mini Badung berubah menjadi Sanggar Teater Mini.
Baca Juga: Polsek Denpasar Timur Ringkus Maling Spesialis Hewan Peliharaan, Kerap Incar Burung, Begini Aksinya
Istilah drama klasik memang sengaja dimunculkan Anom Ranuara untuk menunjukkan perbedaan dengan genre drama lainnya, seperti sendratari dan drama gong.
Sayangnya, tidak ada dokumentasi drama klasik yang pernah dimainkan Teater Mini. Meski sering mainkan di TVRI ternyata file-nya ternyata tidak disimpan. Perpindahan teknologi membuat dokumentasi drama klasik Anom Ranuara tidak terselamatkan.
Anom Ranuara yang turut hadir dalam sesi gelar wicara mengatakan dirinya memang rutin menulis. “Seperti orang minum kopi, tak dapat kopi bisa pengeng. Saya kalau tak dapat menulis juga pengeng,” katanya.
Menurut Anom Ranuara, untuk bisa menulis naskah drama dengan baik, resepnya tiada lain banyak membaca. Tatkala hendak menulis naskah drama klasik, dia mengaku membaca buku-buku pewayangan. Selain itu, dia juga rajin menonton pertunjukan.
“Usai menonton film cowboy, saya merasa menjadi cowboy. Itu sebetulnya proses berteater, proses memungut karakter,” kata Anom Ranuara.
Karena itu, Anom Ranuara mengkritik seniman kini yang merasa sudah besar, tidak mau menonton pertunjukan orang lain. “Menonton saja, pasti ada yang akan didapat. Paling tidak, apresiasi kepada teman,” kata Anom Ranuara.***
Editor : M.Ridwan