BULELENG-Lukisan wayang kaca menjadi ikon di Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng. Kini makin sedikit generasi muda yang menggeluti lukisan tersebut.
Made Wijana, 28, menunjukkan beberapa karya lukisan kaca miliknya. Sebagian besar merupakan lukisan klasik, mengacu pada epos Ramayana dana Mahabrata. Lukisan-lukisan itu memenuhi penjuru studio lukis miliknya di Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng.
Wijana merupakan salah satu pelukis muda. Bisa dibilang ia satu-satunya pelukis kaca yang berusia muda di desa tersebut. Selebihnya telah berusia lebih dari separo abad.
Darah seniman bukannya mengalir begitu saja. Dia merupakan keturunan langsung dari Jro Dalang Diah, maestro lukis kaca gaya Nagasepaha. Ayahnya, adalah Ketut Santosa yang juga seniman lukis kaca yang begitu tersohor.
Asam garam dunia seni rupa sudah ia geluti. Wijana mengenyam pendidikan formal soal seni rupa di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Kini dia berstatus sebagai guru di salah satu sekolah menengah di Buleleng. Disamping itu dia juga sudah mengikuti berbagai pameran di Bali.
Wijana menuturkan lukisan-lukisan karyanya memang lebih banyak bernuansa klasik. Ia mengambil nukilan kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata. Setiap karya harus dibuat dengan presisi. Tidak ada peluang melakukan kesalahan dalam melukis kaca.
“Memang sangat menantang. Ada pakem yang harus dipatuhi. Tapi peluang-peluang untuk melukis secara kreatif juga terbuka. Ini yang menjadikan lukisan wayang kaca ini unik,” kata Wijana.
Lukisan wayang kaca sendiri cukup diminati. Wijana menyebut karya-karya lukis wayang kaca sudah banyak dikoleksi hingga ke mancanegara. Seperti Australia, Malaysia, hingga Amerika Serikat.
Lebih lanjut Wijana mengatakan saat ini ia berusaha melakukan strategi pemasaran yang berbeda. Selain melakukan pemasaran secara konvensional dan menghadiri pameran, dia juga melakukan pemasaran secara online melalui situs web pribadinya. (*)
Editor : Donny Tabelak