Tjokorda Bagus Pemayun, musisi yang biasa dipanggil Cok Bagus, eks personel grup musik Nosstress ini punya usaha busana adat Bali yang bernuansa klasik. Tempat usaha itu bernama Simbar Klasik berlokasi di Jalan Rambutan, Denpasar.
USUT punya usut, usaha ini sudah ia geluti dari tahun 2018 silam, sebelum keluar dari grup band yang telah membesarkan namanya.
Cok Bagus-sapaan akrab Tjokorda Bagus Pemayun- menjual kamen, saput, udeng dan kemeja pria untuk sembahyang. Hampir semuanya model klasik.
Tjok Bagus memang menyukai gaya pakaian Bali tempo dulu era tahun 1930-an. Kain-kain yang dijual adalah hasil kolaborasi dengan perajin di desa-desa. Seperti songket bekerja sama dengan pelaku usaha di Klungkung dan kain gringsing dengan perajin dari Desa Tenganan, Karangasem.
Bahkan, ia juga menjual batik tulis yang langsung didapat dari Solo, Jawa Tengah. Ia juga menjual kain yang dipadukan dengan kain Sumba yang didatangkan langsung dari Sumba Nusa Tenggara Timur.
“Kalau kain Sumba (Nusa Tenggara Timur) mahal, ya. Saya coba membuat perpaduan budaya. Saya potong-potong jadikan saput. Saya kenal dengan penjualnya kebetulan ia meminta saya ikut memasarkan kainnya,” ujar Cok Bagus saat ditemui beberapa hari lalu.
Musisi asal Gianyar ini yang langsung mendesain beberapa kamen maupun saput yang dijual. Idenya mengalir begitu saja, tidak ada pakem asalkan bernuansa klasik.
Mendesain busana adat Bali sama seperti menciptakan lagu. "Saya suka vintage yang klasik, jadi ketika saya jenuh vakum beralih ke Simbar Klasik mengangkat busana adat Bali tempo doeloe," tuturnya.
Mau tahu banderol harganya? Bervariasi, tentu saja. Harga kain-kain itu dari Rp 150 ribu sampai Rp 10 juta. Produksi barang-brang dijual sangat limited edition, sehingga ia jamin tidak pasaran atau tidak akan sama dengan yang lain. Konsep Cok Bagus sekali diproduksi tidak akan diproduksi lagi.
Kendati motif klasik tapi pelanggan Simbar Klasik dari anak muda hingga tua juga ada.”Bukan semata-mata mencari untung. Sempat mau buat masal karena mikir cuan, Tapi terkejut kata pelanggan dari Tabanan, bilang banyak dagang gini di sana. Tapi milih nungguin Simbar Klasik. Karena itu saya mempertahankan idealisme bukan sekadar saja," bebernya.
"Seperti batik di Solo. Kan ada yang di-print, tapi banyak yang cari klasik dan eksklusif," lanjutnya. [*]
Editor : Hari Puspita