Pese
SECARA turun temurun, menurut Kelian Adat Banjar Bongan Gede, Komang Suparman, tradisi Mesuryak dilakukan setiap warga memiliki sanggah gede (pura keluarga). Dialah yang mesuryak membagikan uang kepada warga.
Untuk peserta yang mengikuti tradisi Mesuryak berebut uang yang dilemparkan ke udara tidak ada batas. Boleh dari warga setempat atau sanak keluarga yang berada di luar krama Desa Adat Bongan.
“Siapa saja boleh mengikuti entah yang tua, anak-anak hingga masyarakat desa lainnya. Semua boleh ikut Mesuryak,” jelasnya, terkait acara yang dihelat untuk seluruh warga tersebut.
Menariknya, dalam tradisi Mesuryak diakui Komang Suparman banyaknya punia alias uang sedekah sosial berupa uang yang dipersembahkan. Inilah yang menjadi kebahagiaan tersendiri bagi warga.
Apalagi anak-anak. Mereka tentu saja paling antusias berebut uang. “Warga percaya dan yakin semakin banyak punia uang, maka rezeki akan datang berlimpah yang diberikan Sang Hyang Widhi atau tuhan,” ungkapnya.
Karena adanya keyakinan bahwa dengan berbagi uang untuk seluruh warga yang dapat dinikmati bersama-sama ini, maka akan menjadi berkah tersendiri. Karena hakikatnya rezeki adalah pemberian Tuhan yang memang harus dibagi. Bukan untuk dinikmati sendiri saja. Atau dinikmati bersama keluarga sendiri saja.
Batasan punia atau uang untuk tradisi Mesuryak tidak ada. Tergantung keikhlasan dan kemampuan keuangan warga masing-masing. Tidak ada Batasan minimal berapa, maksimal berapa nominalnya.
“Ada yang rezeki lebih dipersilakan, ada yang tidak ada yang diikhlaskan. Artinya tidak ada paksaan seikhlasnya saja,” pungkasnya.
Meskipun cara bersyukurnya sederhana, namun dari Mesuryak ini punya efek kebersamaan yang luar biasa. Efek interaksi sosial dan bersyukur atas segala karunia Sang Pencipta. [selesai/*]
Editor : Hari Puspita