RadarBali.id- Ada-ada saja. Gegara film horor, sebuah rumah yang menjadi tempat syuting jadi terkenal. Namun image mistis pun telanjur lekat.
Yakni sebuah rumah tua di Semarang, belakangan yang menjadi perbincangan. Gara-garanya, Luna Maya mengunjungi rumah tempat syuting film Beranak Dalam Kubur yang dibintangi Suzzanna pada 1971 silam itu.
Puluhan tahun berlalu, aura mistis masih menyelimuti rumah dua lantai tersebut.
Meski terlihat dan terasa menyeramkan, TNI (Purn) Kolonel Nursahit enggan pindah. Dia telanjur nyaman menghuni rumah di Jalan Teuku Umar No 18, Kelurahan Jatingaleh, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, tersebut.
Dia tak peduli meski rumah yang dihuninya itu dikaitkan dengan aneka kabar. Mulai rumor adanya harta karun hingga keberadaan makhluk gaib yang berseliweran.
Veteran kelahiran 1936 itu menempati rumah tua tersebut sejak 1978 atau tujuh tahun setelah lokasi itu digunakan Suzzanna memerankan adegan horor. Dia membeli rumah dan pekarangan seluas 3.000 meter persegi tersebut seharga Rp 10 juta.
’’Setelah tugas terakhir di Wonosari, saya punya niat pensiun di Semarang,’’ ujar Nursahit kepada Jawa Pos Radar Semarang saat berbincang sembari menanam benih sayuran dalam cup bening bekas minuman Selasa (15/8/2023) lalu.
Tak banyak yang berubah meski Nursahit sempat memoles rumah itu. Dia masih nyaman dengan fasad bangunan bernuansa kolonial. Interior rumah berarsitektur Eropa itu juga masih dipertahankan.
Dia hanya menambahkan cat putih dengan warna kuning cerah di bagian pagar dan sebagai variasi di beberapa sisi rumah. ’’September saya renovasi dan selesai Februari 1979,’’ tuturnya.
Menurut Nursahit, rumahnya adalah bekas asrama tentara. Karena itu, banyak sekali kamar di lantai 1 yang kini diubah menjadi kos-kosan. Total ada 30 kamar yang hampir semuanya terisi. Hanya 1–2 kamar yang kosong.
Dua tangga di kanan dan kiri menuju teras depan rumah juga masih tampak kokoh meski ada retakan kecil di sana-sini. Rumput-rumput kecil dibiarkan tumbuh di sela-sela retakan tersebut.
Beberapa tanaman dan bunga menghiasi halaman depan rumah. Lantainya pun masih sama seperti dalam film yang sempat dirilis ulang dengan artis Luna Maya sebagai pengganti Suzzanna. Jendela dan pintu berukuran besar juga tetap dipertahankan.
Selama ini, dia sengaja mengosongkan lantai 2. Tak ada yang membantunya bersih-bersih. Nursahit tinggal hanya berdua dengan istrinya. Enam anaknya sudah memiliki rumah sendiri-sendiri. Di lantai 2 itulah syuting film horor bersama Suzzanna dilakukan.
Ada beberapa kamar besar dan ruangan tengah yang cukup luas. Sebagian besar masih asli, baik pintu besar gaya Eropa, ubin, maupun tangga. Hanya dicat lagi untuk menutupi warna tembok yang tampak kusam. Kamar mandi yang dilengkapi bathtub tempat Suzzanna syuting film pun tak diubah.
Tampilan dan kisah seram yang menyelimuti rumah Nursahit mengundang banyak perhatian.
’’Banyak yang ke sini, mulai dari televisi, YouTuber indigo, hingga media lain. Yang paling menakutkan adalah kamar mandi yang ada bathtub-nya itu. Ceritanya, ada sosok hitam besar,’’ terang Nursahit.
Bahkan, beberapa orang indigo pernah lari ketakutan saat hendak membuka pintu ke kamar mandi. Praktisi spiritual juga berdatangan.
’’Masih banyak yang menggunakan area sekitar rumah saya untuk semedi. Ada yang datang dari Wonosobo, Ungaran, dan beberapa kota lain,’’ tuturnya.
Selama menempati rumah itu, Nursahit merasa biasa saja. Tak pernah mendapat gangguan apa pun. Hanya ada beberapa keganjilan yang pernah dia alami. Salah satunya saat dia masih terjaga.
Dari kamar, dia mendengar keramaian layaknya pasar di depan rumahnya. Banyak wanita bersahutan seolah turun dari bus yang menyetel musik keras. Penasaran, dia pun beranjak keluar.
Dia bertemu beberapa penghuni kos yang sedang duduk di depan kamar. Dia kemudian menanyakan soal keramaian yang terdengar dari kamarnya.
’’Mereka menjawab tidak ada keramaian apa pun sejak beberapa jam yang lalu duduk santai,’’ ujar Nursahit yang menirukan perkataan penghuni kos.
Nursahit juga mengungkapkan, peristiwa horor sering dialami beberapa penghuni kos. Namun, dia tak mau mengungkapkan secara spesifik kisah-kisah yang dialami para penghuni kos. Intinya, bagi yang memiliki indra keenam.
Di beberapa bagian rumah kerap muncul sosok tak kasatmata. Baik di dalam rumah maupun pekarangan.
Saat ini rumah tersebut ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Semarang. Itu sesuai Surat Keputusan Wali Kota Semarang Nomor: 640/140/Tahun 2018.
Dalam mendapatkan rumah tersebut, Nursahit dibantu Mayjen TNI Sukoco, Brigjen TNI Sawarno H., dan Kolonel C.Z. Sudarto.
Sebagai penghormatan, tiga nama itu diukir pada batu yang tersimpan di belakang rumah Nursahit. [Zalzilatul Hikmia
JPG/jawapos]
Editor : Hari Puspita