SINGARAJA– Para pemudadan pemudi di Buleleng saling adu keahlian mengukir wayang semeton. Bagaimana hasilnya? Kali ini bukan sembarang wayang, namun wayang dengan gaya khas Buleleng yang notabene lebih dinamis dalam gaya berpakaian.
Tercatat ada 36 orang pemuda dari seluruh kecamatan yang ikut ambil bagian dalam lomba mengukir wayang yang digelar Museum Lontar Gedong Kirtya. Lomba itu dilaksanakan di Wantilan Sasana Budaya, pada Selasa (3/10).
Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng Nyoman Wisandika mengatakan, lomba mengukir wayang sengaja dihelat untuk pelestarian warisan budaya Bali Utara. Ia berharap lewat lomba tersebut para pemuda lebih memahami karakteristik khas ukiran wayang khas Buleleng.
“Memang ini tugas berat kami. karena mengukir wayang ini jarang diminati. Dengan upaya terus menerus dan simultan, mudah-mudahan mereka bisa melihat dan menggali lagi, serta memanfaatkan warisan budaya yang kita miliki,” kata Wisandika.
Dalam lomba kali ini mereka ditantang mengukir wayang dengan tokoh Yudistira. Tokoh ini melambangkan kebijaksanaan. Diharapkan para peserta dapat meneladani spirit Yudistira untuk dapat berpikir, berkata, dan berperilaku lebih bijaksana sesuai dengan tokoh pewayangan tersebut. ***
Editor : Donny Tabelak